Mbay, Ekorantt.com – Penyintas Lewotobi, Flores Timur (Flotim) menyalurkan bantuan kepada warga Danga, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Para penyintas berjumlah tiga belas orang menempuh perjalanan kurang lebih 344 kilometer dari Huntara di Flotim ke Nagekeo, Kamis, 27 Agustus 2026 siang. Waktu tempuh selama 10 jam hingga tiba di Danga pukul 02.00 Wita.
Kepala Desa Hokeng Jaya, Gabriel Bala Namang dan Kepala Desa Klatanlo, Petrus Muda Kurang ikut dalam rombongan itu. Mereka menyalurkan bantuan saat Gunung Lewotobi Laki-laki Meletus pada Kamis pagi.
Logistik yang dibawa yakni sembako, pakaian, pisang, ubi, dan sayuran hasil sumbangan korban erupsi Lewotobi Laki-laki. Lewat penggalangan dana meliputi desa-desa terdampak, relawan berhasil mengumpulkan dana senilai Rp15 juta.
“Kami dengan dua mobil pikap, muat barang bantuan. Baru sampai tadi subuh, jam 02.00 Wita,” kata Cornelis Fransiskus Bataona, salah satu relawan kepada Ekora NTT, Jumat, 28 Agustus 2026 pagi.
Cornelis terharu melihat kondisi korban gempa di tenda darurat. Mereka disambut gempa susulan berskala kecil dua jam setelah tiba di Nagekeo.
Mereka juga pernah merasakan betapa peliknya tidur di tenda selama satu tahun, sebelum dipindahkan ke Huntara sembari menanti pemerintah membangun hunian tetap.
“Udara di sini mirip dengan kampung di Hokeng. Kami saling berbagi cerita di tenda darurat, saling menguatkan satu sama lain,” tutur Cornelis.
Kades Hokeng Jaya, Gabriel Bala Namang, mengatakan aksi solidaritas dari penyintas erupsi gunung untuk para penyintas gempa berangkat dari kesadaran sosial untuk membalas budi kebaikan di tengah bencana.
“Kami menyadari begitu besar perhatian, kepedulian, dan bantuan yang datang dari saudara kita di Flores bagian barat saat kami mengalami bencana erupsi. Saat ini mereka sedang terkena yang musibah gempa, jadi sudah sepatutnya kami juga membantu,” katanya.
Gabriel berkata, bantuan yang dibawa datang dari empati penyintas Lewotobi Laki-laki, kendati kehidupan ekonomi warga di pengungsian belum pulih. Mereka memberi dari keikhlasan untuk mengurangi beban korban gempa.
“Bantuan dalam jumlah yang terbatas, tetapi ini sebagai simbol ucapan terima kasih kami. Semoga dalam kondisi apapun, kita semua harus tetap punya harapan,” kata Gabriel.
Adriana Goleng, warga terdampak di Danga, berterima kasih kepada penyintas Lewotobi Laki-laki yang dengan keringanan langkah dan kemurahan hati menyambangi mereka secara langsung.
“Dari tempat yang jauh, mereka rela membantu kami di sini. Puji dan syukur kepada Tuhan atas rahmat baik yang boleh kami terima lewat uluran tangan dari para penyintas erupsi Gunung Lewotobi,” tutur Adriana.
Andriana bersama warga terdampak sudah 13 hari menempati tenda darurat, mengamankan diri dari gempa susulan yang masih berpotensi terjadi di waktu tidak terduga.
Penulis: Paul Kabelen













