Maumere, Ekorantt.com – Aktivitas ekonomi di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai pulih.
Meski infrastruktur fisik mengalami kerusakan berat, para pedagang nekat berjualan di atas puing-puing reruntuhan bangunan yang hancur diguncang gempa bumi.
Reruntuhan puing-puing bangunan yang belum dibersihkan tak menyurutkan para pedagang ikan dan sayur untuk menyambung hidup. Padahal Pemerintah Kabupaten Sikka sebelumnya telah mewajibkan seluruh pedagang untuk berjualan ke Pasar Alok dan Pasar Tingkat.
Salah seorang pedagang sayur, Martha mengaku tidak punya pilihan lain selain berjualan di lokasi itu demi menyambung hidup keluarga.
“Kalau tidak jualan di sini, kami mau makan apa? Memang ada gempa susulan dan bangunan akan rubuh lagi, tapi urusan perut tidak bisa ditunda,” ujar Martha saat ditemui di lokasi TPI, Selasa, 15 September 2026 pagi.
Ia mengaku memilih kembali berjualan di TPI Maumere karena di Pasar Alok dan Pasar Tingkat, barang dagangannya tidak laku.
“Saya berjualan di sini karena melihat pedagang lain mulai berjualan maka saya juga ikut berjualan,” ujar Martha.
Menurutnya, pendapatan berjualan di TPI Maumere lebih banyak daripada di Pasar Alok dan Pasar Tingkat karena sepi pembeli.
“Kalau saya jualan di sini barang dagangan saya habis terjual. Berbeda dengan di Pasar Alok dan Pasar Tingkat banyak dagangan yang sisa. Apalagi sayur mayur kan cepat rusak kalau tidak laku,” ujar Martha.
Situasi di TPI juga tampak tidak dijaga oleh Sat Pol PP, pasca-kejadian gempa bumi. Sebelumnya, petugas menjaga ketat pintu gerbang utama dan pintu gerbang sebelah timur.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sikka, Lambertus Sol Keytimu mengatakan, pihaknya sudah menertibkan para pedagang ikan maupun sayur di lokasi TPI, namun pada pedagang masih tetap berjualan.
“Para pedagang kita masih keras kepala, apalagi berjualan di atas puing-puing bangunan. Padahal pemerintah sudah menyiapkan tempat dan fasilitas di Pasar Alok dan Pasar Tingkat,” ujarnya kepada Ekora NTT, Kamis, 17 September 2026.
Pihaknya telah menertibkan para pedagang yang masih berjualan di TPI. “Tadi pagi saya dengan anggota sudah menyuruh para pedagang ikan yang masih berjualan di dekat pintu masuk supaya pindah ke bagian dalam, sementara pedagang sayur kembali ke Pasar Alok dan Pasar Tingkat.”
Ia menambahkan, pihaknya telah menempatkan kembali petugas Sat Pol PP untuk menjaga area TPI Maumere.
Lambertus berharap pengamanan di TPI perlu ditingkatkan, salah satunya dengan memperbaiki pagar yang telah roboh. “Dinas perikanan harus segera memperbaikinya agar keluar masuk pedagang bisa tertib melalui satu pintu. Kalau tidak tertib, potensi retribusi daerah bisa terganggu. Jangan hanya mau memungut retribusinya saja,” tegasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, Malik Bakhtiar membenarkan kondisi pelabuhan yang mengalami kerusakan parah termasuk banyaknya fasilitas yang rusak.
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBBN) untuk pelayanan BBM juga mengalami kerusakan, mulai dari penampung minyak hingga pagar keliling TPI. Selain itu, pabrik es dan cold storage sebagiannya juga rusak.
“Kami sudah menginventarisasi dan mengirimkan datanya ke Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ” ujar Malik di ruang kerjanya, Kamis siang.
Saat kunjungan Gubernur NTT dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT, Malik sudah berkomunikasi dan menyepakati data kerusakan tersebut.
“Saat ini kami sudah menyiapkan proposal untuk dikirimkan ke propinsi agar diteruskan ke pusat. Mudah- mudahan fasilitas pelayanan di TPI ini secepatnya diperbaiki atau dibangun kembali demi meningkatan produksi, karena produksi perikanan tangkap di Sikka termasuk yang paling banyak di NTT,” tambah Malik.
Pabrik es di lokasi tersebut sudah tidak bisa beroperasi lagi akibat kerusakan mesin saat terjadi gempa. Namun, masih ada pabrik es di Nangahlae yang sementara waktu dapat membantu kebutuhan nelayan.
Menurutnya, pelabuhan TPI sudah tidak layak digunakan karena bagian bawa strukturnya telah berongga. Terlebih dengan adanya gempa bumi, kemungkinan besar terjadi pergeseran struktur.
“Oleh karena itu, kita berharap pelabuhan harus dibangun baru dan diharapkan kontruksi barunya berstatus tahan gempa,” ujar Malik.













