Menjadi Guru yang Terlibat di Tengah Bencana

(Sebuah Refleksi Pengalaman Pascagempa Flores)

Oleh: Maria Susi Ria*

Semarak Agustus bernuansa kemerdekaan Indonesia membakar dalam diri jiwa anak muda. Sigap dan geram seruan merdeka belum selesai menggema di tanah Nusantara. Seluruh penjuru hiruk-pikuk menyiapkan hari kebanggaan bumi pertiwi. Seruan merdeka yang dipersiapkan berganti tangisan dan ratapan menyelimuti seluruh daratan Pulau Flores.

Hal ini karena bumi berguncang hebat. Amukan alam lewat guncangan tektonik pada Sabtu 15 Agustus 2026 di bumi Flores Nusa Tenggara Timur berkekuatan 7,7 Magnitudo di Timur Laut Mbay-Nagekeo diperkirakan menimbulkan potensi tsunami, sementara tunas-tunas kehidupan bangsa harus berhenti sejenak untuk berkemas menyambut harapan menata masa depan. Ingat, waktu itu 15 Agustus 2026. Hari yang tak akan terlupakan.

Dampak guncangan tektonik tidak hanya membawa trauma bagi dunia pendidikan Flores tetapi juga merusak banyak fasilitas pendidikan. Ruang untuk anak-anak sekolah bertumbuh, berkembang, belajar, dan bermain, tempat mereka dilatih dan dibina sesuai ajaran agama dan moral terpaksa rehat.

Tak hanya anak-anak, guru pun terjebak dalam kondisi dan situasi yang sama. Di tengah persiapan administrasi, guru dituntut menjadi tembok revolusi pada setiap satuan pendidikan. Guru harus berani tampil mengalahkan ketakutan dan kecemasan dan menganggap ancaman alam sebagai sahabat bagi dirinya sendiri.

Keberanian ini membangkitkan semangat anak-anak untuk berani keluar dari rasa takut dan cemas. Bagi anak sekolah, kehadiran guru layaknya obor api yang redup kembali menyala. Sebagaimana yang digaungkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses yang menuntun segala kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Artinya, anak-anak sekolah memiliki keinginan yang tinggi untuk belajar walaupun kondisi fisik sekolah belum menjamin keselamatan dalam aktivitas pembelajaran. Di sisi lain, anak-anak dituntut beradaptasi dan berdampingan dengan fasilitas sekolah yang rusak dengan tingkat kenyamanan dan keselamatan yang juga masih rentan.

Mengantisipasi terjadinya kesenjangan dalam proses pembelajaran pasca-gempa, para guru atau pendidik memanfaatkan halaman dan lapangan untuk kegiatan belajar gembira berupa senam gembira, games edukasi gasing, bercerita, dan mewarnai. Tindakan urgensi terhadap situasi gawat darurat guna mengedepankan keselamatan dan berfokus pada aktivitas sehingga dapat menghilangkan trauma.

Melalui Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan PKO.400.3.5/32/VIII/2026 tentang Aktivitas Pembelajaran Tatap Muka di Masa Tanggap Darurat Bencana menetapkan perpanjangan masa tanggap darurat bencana khusus di Pulau Flores Kabupaten Sikka terhitung sejak 31 Agustus-12 September 2026. Hal ini berkaitan dengan upaya pencegahan awal sambil menunggu instruksi terkait kebijakan lebih lanjut.

Untuk itu, saya memanfaatkan kemampuan teknologi dan melihat ratusan berita di platform media sosial pasca-gempa. Di Kabupaten Sikka, sebagian besar kondisi fisik bangunan sekolah mengalami kerusakan cukup serius. Beberapa sekolah yang terletak di daerah terpencil justru mengalami tingkat kerusakan lebih berat sehingga proses kegiatan belajar mengajar terpaksa diliburkan atau pembelajaran terjadi dari rumah. Keadaan yang memprihatinkan ini akhirnya mengetuk hati banyak relawan, donatur, dan komunitas-komunitas untuk memberi donasi kepada warga masyarakat Kabupaten Sikka yang paling terdampak. 

Kebutuhan utama di setiap satuan pendidikan yang paling urgen pasca gempa di antaranya seperti kebutuhan alat tulis, buku bacaan, pensil warna, tikar, terpal, papan tulis, dan tenda darurat. Tentu masih banyak kebutuhan yang diperlukan untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan pembelajaran.

Guru Harus Peka Melihat dan Terlibat

Atas keprihatinan ini, seorang tenaga pengajar mesti terpanggil untuk melihat dan terlibat langsung. Hal ini justru saya lakukan dengan hati yang tegar. Saya ikut bergabung dengan komunitas relawan mandiri yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat pasca Gempa. Kami melakukan distribusi logistik bersama Tim Volunter Ayo ke Timur melalui perjalanan laut menggunakan Kapal Feri perintis KMP Ile Ape sekitar lima hingga enam jam.

Barang bantuan berupa kebutuhan ibu serta anak balita, ditambah sembako, sayur-sayuran, alat tulis, buku bacaan, hadiah, dan jajanan. Saya tahu bahwa komunitas volunter mandiri Ayo ke Timur tidak terikat pada instansi apa pun, pemerintah atau yayasan. Komunitas volunter mandiri murni terbentuk yang dilatarbelakangi oleh kesamaan ide, pikiran serta semangat jiwa yang seirama.

Melalui beberapa koneksi, relasi para sahabat dari Pulau Jawa dan sekitarnya,  tim relawan Ayo ke Timur mengunjungi salah satu sekolah terpencil tepatnya di SD Katolik Nitung, Desa Nitung Lea dan Kampung Natakuni,  Desa Kesokoka di Pulau Palue – Rokatenda, Nusa Tenggara Timur. Alasan utama Pulau Palue menjadi target volunter Ayo ke Timur karena secara geografis letak wilayah Pulau Palue berada paling dekat dengan lokasi tektonik.

Faktanya, Pulau Palue adalah bentangan Gunung Rokatenda adalah gunung berapi aktif dengan luas daratan sangat kecil dan selebihnya adalah bebukitan, lereng, dan jurang sebagai pemisah bukit. Kerusakan parah pasca gempa disebabkan hunian tempat tinggal penduduk berada di ketinggian.

Hal ini memicu guncangan lebih kuat dan menyebabkan banyak titik longsor. Jarak tempuh perjalanan cukup berat disebabkan medan yang dilalui cukup berat, mendaki, dan menurun melewati longsoran pasir, reruntuhan material dan sebagian besar tanah yang terkikis menyebabkan tepi jurang semakin melebar. Perjalanan cukup ekstrem dengan tingkat kewaspadaan sangat tinggi.  

Secara administratif, kependudukan terbentuk dalam satu Kecamatan Palue yang terdiri dari delapan desa dan tersebar di atas permukaan Gunung Rokatenda. Musibah gempa tektonik meninggalkan ancaman serius, ratusan rumah penduduk hancur, ketersediaan  air bersih berkurang, hingga kehilangan orang-orang terkasih.

Imbauan waspada dan siaga menjadi alarm bahkan belum dapat dipastikan kapan guncangan tektonik susulan berakhir. Penyaluran logistik di Pulau Palue hampir terjadi setiap hari terutama melalui Pemerintah Kabupaten Sikka, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, PMI Kabupaten Sikka, banyak instansi, yayasan, komunitas Gereja, hingga relawan mancanegara.

Kegiatan volunter Ayo ke Timur akhirnya berkembang kepada ide dan pikiran baru usai melihat dan merasakan secara langsung kondisi masyarakat Palue. Selain memberi sembako dan kebutuhan ibu dan anak timbul inisiatif memberikan perhatian pada bidang pendidikan bagi anak sekolah pasca-gempa selain menjadi relawan pada masyarakat Pulau Palue.

Adapun kegiatan yang dilakukan yakni senam kebugaran, menggambar, mewarnai, menyanyikan lagu-lagu nasional, menulis surat cinta, serta bagi-bagi hadiah alat tulis dan buku bacaan. Kegiatan sekolah darurat yang saya lakukan adalah bentuk dukungan psikologi awal untuk mengurangi rasa takut, trauma, dan cemas akibat musibah tepatnya di halaman Sekolah Dasar Katolik Nitung Lea. Tidak mengurangi keterlibatan dan kemampuan para guru di sekolah, sejatinya kegiatan tersebut dilakukan murni kesediaan diri  tanpa ada tekanan, perintah atau kepentingan dari pihak mana pun.

Guru Pahlawan Pengabdian Tanpa Batas

Kenyataannya, bahwa besar kerinduan anak-anak sekolah untuk kembali belajar bersama guru-guru. Kembali menikmati kenyamanan lingkungan sekolah yang menggembirakan, asri dan kondusif. Namun, pemulihan terhadap situasi tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Upaya trauma healing digandeng dengan penyesuaian materi jika sewaktu-waktu terganggu evakuasi darurat, kondisi cuaca atau perbaikan infrastruktur. Pemulihan bukan hanya untuk aktivitas pembelajaran  tetapi aktivitas dan rutinitas harian masyarakat.

Kondisi psikologi anak-anak sekolah seharusnya merasa aman, fokus, dan siap menerima pelajaran, kini terganggu trauma, cemas, dan takut. Anak-anak seakan hilang arah menunggu kepastian. Inilah tantangan terberat bagi tenaga pendidik atau guru karena harus melawan rasa takut dan menyiapkan mental terhadap ancaman alam yang datang tanpa berita.

Meski dilema, situasi menekan tenaga pengajar untuk menyembuhkan rutinitas anak-anak seperti sedia kala. Guru tidak mengabaikan tugas dan tanggung jawab tetapi berada di depan untuk menjadi teladan di tengah kesibukan mengurus administrasi yang menumpuk. Inilah yang dinamakan pengabdian tanpa batas di tengah ancaman bencana.

Dari titik ini, pemerintah dan sekolah sadar bahwa guru mesti memiliki bekal. Melalui Dinas PKO Kabupaten Sikka pada Senin 31 Agustus 2026, kami menghadirkan Sitti Angraini, Kepala Yayasan Psikologi sekaligus Dosen di Universitas Nusa Nipa Maumere memberikan pelatihan kepada para guru dengan mengutus satu guru perwakilan dan  kepala sekolah yang  bertempat di Aula Dinas PKO guna mengikuti sosialisasi dan pelatihan Dukungan Psikologi Awal (DPA). Selain pelatihan tersebut, diberikan juga materi panduan pertolongan  pertama di sekolah dan panduan singkat latihan penyelamatan gempa di sekolah yang diberikan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka.

Harapannya, pelatihan ini menjadi panduan bagi guru untuk kembali mengimplementasikan pada satuan pendidikan masing-masing. Tanggap darurat pembelajaran kemudian berakhir pada 12 September 2026. Aktivitas perlahan mulai tampak, para Guru dan anak-anak bekerja sama menyiapkan arena  pembelajaran. 

Pada fase ini, saya menemukan sebuah refleksi sederhana; bahwa guru adalah pahlawan pengabdian tanpa batas dan harus tampil percaya diri di hadapan anak-anak yang berjuang menyingkirkan kecemasan dan ketakutan. Guru juga harus berani melihat dan terlibat dalam setiap situasi. Dengan modal keteguhan pada panggilan murni, guru merupakan kunci yang membuka cakrawala masa depan generasi muda.

Untuk semua ini dan lebih dari doa yang terus dipanjatkan, lekas pulih bumi Flores karena masih ada cahaya harapan menanti di ufuk timur. Kerja dan perjuangan guru adalah supaya mereka, calon masa depan Gereja, bangsa, dan negara bisa bebas dari trauma dan situasi batas saat ini. Mereka adalah tunas-tunas kehidupan yang merangkak bersama obor dan tombak pendidikan. Cepat pulih Flores, pulau dengan sejuta cinta dan harapan dari Timur Indonesia.

*Penulis adalah Guru Sekolah Dasar. Tinggal di Gere, Nita.

TERKINI
BACA JUGA