Puskesmas Oepoi Pantau Pertumbuhan Balita Cegah Stunting

Kupang, Ekorantt.com – Puskesmas Oepoi Kota Kupang terus memantau pertumbuhan balita melalui pelayanan kesehatan dan kegiatan Posyandu untuk mendeteksi dini masalah gizi serta menekan risiko stunting di wilayah itu.

Kepala Puskesmas Oepoi, drg. Elfride Ruth saat diwawancarai Ekora NTT beberapa waktu lalu mengatakan penanganan balita dengan masalah gizi dilakukan sesuai kondisi masing-masing anak, mulai dari berat badan yang tidak naik hingga kekurangan gizi dan gizi buruk.

Menurutnya, balita yang mengalami gizi buruk membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan dokter anak untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan gizinya.

“Kalau stunting ataupun gizi buruk, penanganannya berbeda. Untuk kasus gizi buruk, biasanya membutuhkan penanganan lebih lanjut atau rekomendasi dokter anak untuk pemeriksaan dan pemberian makanan khusus sesuai kebutuhan,” jelas Elfride.

Ia mengatakan, tahun ini Puskesmas Oepoi mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan berupa produk pangan khusus untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi balita yang mengalami masalah gizi.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki status gizi anak, termasuk mendukung peningkatan berat badan dan pertumbuhan tinggi badan sesuai kebutuhan.

Namun, Elfride menegaskan bahwa perbaikan status gizi tidak cukup hanya melalui pemberian makanan tambahan. Ketersediaan air bersih dan lingkungan yang sehat juga menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

“Pemenuhan gizi memang penting, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Ada faktor lain yang ikut mendukung pertumbuhan anak, termasuk ketersediaan air bersih,” ujarnya.

Untuk mendukung pemantauan pertumbuhan anak, Puskesmas Oepoi memiliki 37 posyandu yang tersebar di empat kelurahan wilayah kerjanya, yakni Tuak Daun Merah (TDM), Oebufu, Kayu Putih, dan Liliba.

Kegiatan posyandu dilaksanakan secara rutin sesuai jadwal. Apabila jadwal pelayanan bertepatan dengan hari libur atau hari Minggu, pelaksanaannya dapat dimajukan atau diundur agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Melalui posyandu, tenaga kesehatan dan kader dapat memantau perkembangan berat badan serta tinggi badan balita secara berkala. Pemantauan ini penting untuk mendeteksi lebih awal apabila pertumbuhan anak tidak sesuai dengan tahapan usianya.

Selain itu, orang tua dapat memperoleh informasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi, pola pemberian makan, serta langkah yang perlu dilakukan ketika ditemukan masalah pertumbuhan pada anak.

Selain penanganan masalah gizi melalui pelayanan kesehatan, Elfride juga menyampaikan informasi mengenai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah kerja Puskesmas Oepoi.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari rekan-rekan di bidang gizi, distribusi program tersebut di empat kelurahan belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah atau sasaran.

“Kalau informasi yang saya dapat dari teman-teman gizi, di empat kelurahan belum semuanya menerima. Untuk TDM sudah semuanya, sedangkan Oebufu, Kayu Putih, dan Liliba baru sebagian,” katanya.

Informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada instansi pelaksana program untuk memastikan jumlah penerima manfaat, cakupan distribusi, serta kendala yang dihadapi di masing-masing kelurahan.

Sementara itu, terkait pembayaran tunjangan kader posyandu, Elfride mengatakan belum dapat memberikan penjelasan terperinci karena hal tersebut menjadi kewenangan dinas terkait.

Upaya pencegahan stunting dan penanganan masalah gizi balita membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, kader posyandu, pemerintah, hingga keluarga.

“Pemantauan pertumbuhan secara rutin, pemenuhan gizi sesuai kebutuhan anak, serta dukungan sanitasi dan akses air bersih menjadi bagian penting dalam memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal,” ungkapnya. (Adv)

TERKINI
BACA JUGA