70 Nasabah Terdaftar di Bank Sampah Pasar Alok

Maumere, Ekorantt.com – Sekretaris Bank Sampah Pasar Alok,  Rohayati atau yang akrab disapa Yati mengatakan, sejak diresmikan pada September 2019 hingga Februari 2020 terdaftar 70 nasabah Bank Sampah dengan rincian yang menabung 27 orang, 10 orang buka buku rekening baru dan 17 lainnya memiliki buku rekening sendiri.

Yati juga menjelaskan, untuk penjualan sampah pihaknya juga bekerjasama dengan Sinar Agung sebagai Suplier.

“Faktanya, penjual sampah lebih banyak menerima uang ketimbang menabung. Saya selalu tanya sehabis timbang ini mau diuangkan atau menabung, jawabannya selalu diuangkan,” ungkap Yati kepada Ekora NTT, Kamis (27/2/2020).

Yati mengingatkan para penjual sampah sebelum sampah dibawa ke BSA sudah harus dipilah sampahnya terlebih dahulu.

“Saya juga kadang kewalahan menghadapi sampah yang belum dipilah yang dibawa warga. Apalagi saya sendiri petugasnya cukup merepotkan,” terang Yati.

Ketika ditempatkan di Bank Sampah Pasar Alok, Yati menuturkan mengurus bank sampah ini sebuah tantangan baru.

“Banyak orang bertanya kenapa mau menerima pekerjaan seperti ini? Jawaban saya adalah apa pun pekerjaan itu selalu saya terima, dan jalani dengan senang hati. Pekerjaan ini walau sedikit kotor tetapi hati saya sudah tertarik dengan sampah karena bersih itu indah dan hidup menjadi sehat,” ujar jebolan Manajemen Ekonomi Unipa Maumere ini.

Menurutnya, salah satu kepala dinas yang rajin menabung sampah di Bank Sampah Alok (BSA) adalah Kepala Dinas Perindag, Koperasi dan UKM ,Yosef Benyamin.

“Pak Kadis rajin menabung sampah di Bank Sampah Pasar Alok. Hal ini terbukti setiap selesai memilah sampah di rumahnya pasti dibawa ditabung di tempat ini,” ujarnya.

Kadis Benyamin ketika dihubungi dengan nada merendah mengatakan sebagai kepala dinas harus memberikan contoh.

“Masyarakat kita tidak hanya mendengar apa yang dikatakan tetapi harus dibuktikan dengan contoh. Dengan demikian kita memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memilah sampah dan menabung atau menjual di BSA,” kata Benyamin.

Ke depan, lanjut mantan Plt Kadis PKO Sikka ini, mengedukasi pengguna pasar Alok untuk membayar retribusi dengan menggunakan sampah.

“Sampah yang dikumpulkan oleh pengguna pasar selama sebulan bisa untuk membayar los pasar sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu,” jelas Benyamin.

Dikatakannya, untuk menjaga jangan sampai BSA ini mubazir sejak Januari 2020, dibuat kebijakan pengelola pasar Alok ditunjuk sebagai koordinator BSA dan satu tenaga ditempatkan di tempat yang sama untuk melayani masyarakat, menimbang, menabung, dan memprosesnya hingga sampai ke pengepul sampah.

Yuven Fernandez

TERKINI
BACA JUGA