Tak Izin Pohon Ditebang, Pembangunan Bendungan dan Saluran di Sikka Tanpa Jalur Inspeksi

Maumere, Ekorantt.com – Pembangunan Bendungan Nebe di Dusun Blawuk, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur sebentar lagi akan selesai.

Pantauan Ekora NTT Senin, (22/11/2021) pekerjaan utama berupa, apron, saluran dan pintu air nampak hampir rampung. Tinggal menyisahan pekerjaan bronjong sepanjang 800 meter serta finishing.

Namun sayangnya, meski pekerjaan bendungan dan saluran itu selesai tepat waktu, masyarakat di sekitar bendungan enggan merelakan tanaman pohon mereka ditebang untuk jalur inspeksi.

Sebab, jalur inspeksi bertujuan untuk merawat bendungan serta menghindari saluran agar tidak mudah rusak akibat pengaruh akar pohon. Selain itu, jalur itu sekaligus bisa menambah ruang publik.

David Candra selaku kontraktor pelaksana dan Samsudin Alle pengawas lapangan dari Dinas PUPR Propinsi NTT kepada media ini mengatakan bahwa pekerjaan saluran dengan menggunakan dana APBN harusnya ada jalur inspeksi berjarak 3 meter dari saluran.

iklan

Namun disini (Bendungan Nebe) tidak terjadi karena masyarakat tidak membiarkan tanamannya ditebang. Pada sisi kiri dan kanan saluran masih berdiri kokoh berbagai jenis tanaman seperti pohon kelapa, pohon pisang, kakao, mahoni serta rumpun bambu yang seharusnya ditebang.

“Jangankan minta supaya pohon di sekitar sisi saluran ditebang untuk jalan inspeksi, tempat guna menaruh material pun minta dibayar,” jelas Samsudin Ale dan dibenarkan oleh David Candra.

Ditambahkan Samsudin bahwa puluhan juta rupiah uang harus dikeluarkan oleh kontraktor untuk membayar sewa tempat tumpukan material.

Dengan situasi dan kondisi yang ada, memaksa kontraktor untuk membuat saluran diatas tempat yang ada dan berusaha membuat dinding saluran lebih tinggi dari semula.

Pantauan media ini, adapun beberapa bagian saluran yang dibuat langsung menempel di pohon kelapa milik warga.

Menanggapi pertanyaan wartawan tentang tahap sosialisasi awal, baik Samsudin maupun David dengan tegas mengatakan persoalan itu sudah dijelaskan sejak awal ketika melakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Nebe dan Desa Bangkoor.

Sebab, masyarakat dan petani dari kedua desa itulah yang menikmati air dari bendungan itu.

Kepala Desa Nebe Markus Mada ketika dikonformasi media ini di ruang kerjanya mengaku tidak pernah tahu tentang adanya jalur inspkesi.

Ia membenarkan bila sebelum pelaksanaan perjaan pernah dilakukan sosialisasi kepada warga di desanya namun dia tidak tahu bila harus ada jalur jalan inspkesi.

“Saya tidak pernah dikomplain baik dari warga masyarakat maupun oleh kontraktor,” tutur Markus Mada.

Markus berharap pihak kontraktor ketika menemukan persoalan dilapangan segera menginformasikan kepada pihak desa agar persoalan yang ada secepanya dicarikan jalan keluarnya.

Untuk diketahui, pembangunan ini berkat perhatian dan keseriusan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai NTT.

Bendungan itu dibangun dengan total anggaran sekitar 15 Miliar dengan kontraktor pelaksana PT. Kencana Adya Daniswara.

Lukas R. Lado

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA