Deep Learning bukan Checklist Pembelajaran

Guru bukan pemberi informasi semata, melainkan fasilitator perubahan kerangka berpikir. Dan ini sekali lagi, tidak sesederhana menambahkan langkah-langkah pembelajaran di dalam RPP semata

Oleh: Erlyn Lasar*

Saya, mungkin juga seperti sebagian besar guru lain hari-hari ini, sempat mengira bahwa deep learning adalah sebuah metode, sesuatu yang bisa dipilih lalu ditaruh di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), disandingkan dengan model pembelajaran kooperatif, dengan metode diskusi kelompok, atau konsep problem-based learning.

Ada juga yang mungkin memahami deep learning sebagai luaran dengan menganggap ketika peserta didik bisa menyebutkan, menjelaskan, atau menguraikan dengan sedikit lebih dalam, maka pembelajaran sudah sah disebut pembelajaran deep learning. Kekeliruan ini terasa sepele, tapi justru di situlah bahayanya. Begitu istilah ini dijinakkan menjadi sekadar kolom dalam dokumen, ia kehilangan daya subversifnya. Sebab sejatinya, deep learning bukan metode, bukan pula sekadar hasil.

Deep learning adalah paradigma, cara pandang, yang menembus seluruh proses belajar. Paradigma ini menempatkan peserta didik bukan sekadar sebagai pengumpul informasi, melainkan sebagai pembangun pengetahuan. Bukan juga menempatkan guru sebagai polisi, pengawas, atau pengarah gaya belajar di kelas, melainkan sebagai model, teladan, dan potret yang mejadi contoh bagi peserta didik tentang bagaimana sebaiknya peserta didik berpikir melalui pembelajaran.

Paradigma ini menuntut guru menggeser orientasi belajar dari sekadar mengingat ke memahami, dari sekadar mengulang ke mencipta, dari sekadar menerima ke berani meragukan alias mengkritisi. Dengan kata lain, deep learning bukan apa yang kita tambahkan ke dalam RPP, melainkan cara kita menghidupi kelas dan proses pembelajaran di dalamnya.

Kalau kita lihat dari teori-teori pembelajaran yang berkaitan dengan ini, deep learning punya akar yang panjang. John Biggs dan Catherine Tang (2007) membedakan antara surface learning dan deep learning. Yang pertama terikat pada hafalan dan yang kedua bertumpu pada pemahaman konseptual.

Biggs menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna muncul ketika peserta didik mampu mengaitkan ide, menghubungkan antar konsep, dan melihat keterkaitan antara teori dan kehidupan nyata. Sehingga di sini kita bisa melihat bahwa deep learning tidak pernah dimaksudkan sebagai metode tunggal, melainkan sebagai cara peserta didik berinteraksi dengan pengetahuan.

Hal ini juga selaras dengan gagasan constructivism yang menekankan bahwa belajar adalah proses aktif membangun makna. Jean Piaget berbicara tentang asimilasi dan akomodasi sementara Lev Vygotsky menekankan pentingnya scaffolding dan interaksi sosial. Semua itu menunjuk pada satu hal yakni bahwa belajar mendalam hanya mungkin terjadi ketika siswa diberi ruang untuk mengalami konflik kognitif, merumuskan ulang pemahamannya, dan menemukan struktur baru dalam pikirannya.

Guru bukan pemberi informasi semata, melainkan fasilitator perubahan kerangka berpikir. Dan ini sekali lagi, tidak sesederhana menambahkan langkah-langkah pembelajaran di dalam RPP semata.

Lebih jauh lagi, kita juga bisa mengaitkan deep learning dengan gagasan growth mindset dari Carol Dweck. Di mana growth mindset menekankan bahwa kemampuan tidaklah tetap, melainkan bisa berkembang melalui usaha, strategi, dan dukungan lingkungan.

Dua paradigma ini bertemu pada satu titik penting yaitu sama-sama menolak pandangan belajar sebagai proses linier, dangkal, dan instan. Dengan cara pandang pembelajaran mendalam, peserta didik perlu diajak menyelami ketidakpastian, mencoba pendekatan baru, berani gagal, dan belajar dari kegagalan itu.

Sementara konsep growth mindset menyumbang pikiran tentang peran psikologis peserta didik bagi keberlangsungan proses belajar itu sendiri. Bagaimana peserta didik menerima perasaan tidak nyaman saat mereka gagal menemukan jawaban yang tepat, atau bagaimana mereka mengatasi perasaan malu atau segan bertanya di kelas.

Dan lebih penting lagi, bagaimana guru menanggapi dan merespon perasaan-perasaan atau kondisi psikologis peserta didik selama proses belajar. Hal-hal “sepele” seperti inilah yang sejatinya mencerminkan proses belajar yang mendalam itu.

Keterkaitan tersebut membuat saya menarik kesimpulan dalam refleksi ini bahwa tanpa growth mindset, deep learning akan berbentuk seperti gelembung sabun di udara, cepat terbentuk dan cepat pula meletup dan hilang.

Atau dengan ilustrasi lain, kalau dalam proses belajar, baik peserta didik maupun guru masih merasa takut membuat kesalahan atau terlihat tidak mampu, atau bahkan tidak memberi ruang kepada masing-masing individu untuk keluar dari jalur (salah satunya RPP) untuk berinovasi dan berkreativitas mewadahi kebutuhan mental dan emosional sebagai bagian dari proses belajar misalnya, pembelajaran mendalam belumlah terwujud, sekalipun yang kita sebut sebagai deep learning itu sudah kita desain sedemikian rapi dan efektif di atas kertas.

Sayangnya, lagi-lagi, persoalannya, kebiasaan praktis pendidikan kita sering kali memenjarakan gagasan-gagasan ini dalam kerangka administratif dan teknis. Saya teringat juga pada pola workshop guru yang kini makin marak di mana-mana; satu-dua hari penuh paparan, guru disodori berbagai metode baru, dilatih menulis RPP sesuai format mutakhir, dan disuruh menambahkan istilah deep learning di sana-sini.

Sepulang dari workshop, guru mungkin punya berlembar-lembar catatan metode, tetapi yang berubah hanyalah gaya presentasi, bukan cara memandang peserta didik dan proses pembelajarannya. Workshop sering kali menekankan apa yang praktis, instan, dan terukur, sementara deep learning justru menuntut kesabaran, refleksi, dan perubahan paradigma.

Saya tidak menafikan bahwa guru butuh metode praktis. Tetapi pertanyaan kritisnya adalah apakah orientasi kita pada hal-hal praktis inilah yang justru membuat pembelajaran di kelas sulit menukik?

Pendidikan kita terlalu sering berhenti pada how (bagaimana cara melakukannya), tanpa pernah menukik pada why dan what for (mengapa dan untuk apa). Akibatnya, metode yang semula dimaksudkan untuk memperdalam belajar dan proses belajar justru menjadi ritual baru yang sifatnya hanya di permukaan.

Pendapat lain mungkin mempertanyakan, jika deep learning tidak ditulis di RPP, bagaimana kepala sekolah atau pengawas bisa memastikan guru menerapkannya? Pertanyaan ini masuk akal, tetapi juga mengandung jebakan.

Tidak semua yang bermakna bisa direduksi menjadi indikator di kertas. Apakah keberanian bertanya, rasa ingin tahu, kemampuan menghubungkan ide hanya bisa kita ukur dengan kata kerja operasional yang rapi di atas kertas? Menuntut deep learning hadir dalam RPP ibarat meminta sebuah pohon hidup diringkas ke dalam herbarium; bentuknya ada, tetapi denyut kehidupannya hilang.

Pendapat lain juga mungkin berkata bahwa paradigma tanpa metode bisa saja menyesatkan. Guru pun bisa mengklaim apa pun sebagai deep learning.

Menurut saya, kritik ini sah. Tapi di sinilah pentingnya menempatkan paradigma dan metode dalam hubungan yang sehat. Paradigma memberi arah, sementara metode memberi jalan. Diskusi bisa dangkal, ceramah pun bisa dangkal, proyek pun bisa dangkal, tetapi semuanya baru bisa menjadi jalan menuju belajar mendalam jika ditopang oleh paradigma yang tepat.

Bayangkan sebuah pohon. Akarnya adalah paradigma, cabangnya adalah metode, dan buahnya adalah hasil belajar. Jika akar salah dipahami, cabang bisa tumbuh rapi tetapi buahnya hambar. Begitu pula dengan pembelajaran. Metode bisa berganti-ganti, RPP bisa disusun seindah mungkin, tetapi jika cara pandang guru tidak berubah, kelas dan pembelajarannya pun akan tetap berputar di permukaan.

Kita harus jujur mengakui, sistem pendidikan kita masih cenderung menekankan formalitas daripada substansi. Dokumen lebih sering jadi pusat perhatian ketimbang kehidupan nyata di kelas. Guru didorong menulis “kedalaman” di kertas, tetapi tak diberi ruang untuk melatih kedalaman dalam praktik sehari-hari.

Padahal, deep learning sejatinya terjadi bukan di RPP, melainkan di tatapan murid yang tiba-tiba menemukan keterkaitan baru, di pertanyaan yang lahir dari kebingungan, dan dalam keberanian menantang jawaban instan.

Dan untuk itu saya kira, inilah saatnya kita menolak jebakan jargon. Deep learning tidak boleh dibiarkan menjadi slogan baru dalam sistem lama. Ia harus dimaknai sebagai undangan untuk menata ulang seluruh cara kita memandang belajar dan proses belajar di kelas.

Dan undangan ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk penyelenggara workshop, kepala sekolah, dan pembuat kebijakan. Jika tidak, kita hanya akan terus mengulang ironi yakni sibuk menulis kedalaman di atas kertas, tetapi membiarkan ruang kelas tetap dangkal.

*Penulis adalah mahasiswa di Melbourne

TERKINI
BACA JUGA