Bajawa, Ekorantt.com – Sebanyak 105 siswa Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Regina Pacis Bajawa, Kabupaten Ngada lulus ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebanyak 41 siswa.
Kepala SMAK Regina Pacis Bajawa, Hendrianto Emanuel Ndiwa mengatakan, ratusan siswa itu berhasil lolos usai mengikuti seleksi ketat yang dilakukan panitia seleksi nasional. Dalam tes itu para siswa berhasil menyelesaikan 160 soal dengan durasi waktu 195 menit.
“Hasil ini dicapai karena kerja keras seluruh komponen yang ada di lembaga pendidikan termasuk orang tua,” ujarnya di Bajawa, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurutnya, ada empat materi yang diuji mulai dari tes potensi skolastik (TPS), literasi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan penalaran matematika.
Hendrianto berkata, keberhasilan itu juga dampak dari sejumlah perbaikan dalam sistem belajar serta inovasi dan terobosan yang dilakukan sekolah.
“Dengan lulus dalam program itu, para siswa akan mendapat sejumlah kemudahan salah satunya biaya kuliah yang lebih terjangkau di perguruan tinggi nanti,” tuturnya.
Tidak hanya itu, dengan mengikuti seleksi, para siswa juga dituntut untuk berjuang dan bersaing bersama para siswa seluruh Indonesia.
“Persaingan ini seluruh Indonesia, puji Tuhan anak-anak bisa sampai banyak yang lulus.”
Ia mengaku para siswa yang lulus sebagian besar berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, dimana 60 persen berasal dari orang tua petani.
“Kalau anak-anak ini berasal dari keluarga desil satu hingga lima, ini berpeluang mendapatkan beasiswa,” ujar Hendrianto.
Emanuel Loke, salah satu guru pendamping mengatakan keberhasilan yang diraih para siswa berkat kerja dan target yang ditentukan sekolah.
Pasalnya, budaya kerja tidak hanya berlaku bagi guru namun mulai menjalar kepada para siswa. Tidak hanya itu para siswa juga selalu ditekankan untuk menjadi petarung dalam setiap pertarungan.
“Yang selalu kami tekankan ke para siswa yakni budaya menghargai waktu khususnya dalam proses belajar,” katanya.
Pengamat pendidikan di Kabupaten Ngada, Jhon Lobo berpendapat keberhasilan luar biasa itu tidak lahir dari keberuntungan, namun buah manis dari ekosistem pendidikan holistik.
Menurutnya, pendidikan holistik adalah pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan seluruh potensi siswa secara utuh dan seimbang dan dibangun di atas tiga pilar utama.
Pertama, kuatnya akar literasi dalam menghadapi soal-soal penalaran tinggi (High Order Thinking Skills) yang mana sekolah ini tidak menjadikannya jargon pajagan, melainkan fondasi berpikir kritis yang riil.
Kedua, guru berperan sebagai navigator. Menurutnya, pendidik bertindak sebagai kompas yang memetakan potensi dan minat siswa secara presisi, sehingga pemilihan jurusan bukan lagi sebuah tebak-tebakan spekulatif.
Ketiga, adanya sinergitas tanpa batas baik keluarga dan sekolah bergerak dalam satu frekuensi yang sama, mengubah institusi pendidikan menjadi inkubator mimpi yang sangat suportif.
Ia mengaku buah keberhasilan itu berkat dari kerja keras sekolah dalam menanam nilai dan jiwa petarung yang mana siswa didorong untuk tangguh dan percaya diri.













