PLN Alami Kerugian Rp4,8 Miliar Imbas Erupsi Lewotobi Laki-laki

Ia menyebutkan, sebanyak 2.000 meteran dan 12 gardu pada enam desa tersebut tidak lagi difungsikan.

Larantuka, Ekorantt.com – Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami kerugian hingga miliaran rupiah selama 2024-2026 akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT.

“Kalau dikali selama 24 bulan (dua tahun) maka angkanya sudah miliaran. Dari sisi finansial memang pendapatannya berkurang akibat bencana,” kata Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Larantuka, Adipati Arya, di Larantuka, Rabu sore, 25 Maret 2026.

Arya menjelaskan aliran listrik pada empat desa di Kecamatan Wulanggitang dan dua desa di Kecamatan Ile Bura dipadamkan total saat letusan eksplosif pada 3 November 2024.

Ia menyebutkan, sebanyak 2.000 meteran dan 12 gardu pada enam desa tersebut tidak lagi difungsikan.

Estimasi kerugian didapat melalui rata-rata kebutuhan listrik konsumen. Jika satu rumah memiliki 1 meteran PLN dengan biaya kebutuhan listrik Rp100 ribu per bulan, maka total 2.000 meteran dikali 24 bulan hasilnya sebesar Rp4,8 miliar.

Arya berkata, PLN terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat, termasuk layanan sosial untuk warga penyintas yang kini menempati pengungsian Hunian Sementara (Huntara) di Desa Konga, Kecamatan Titehena.

Di pengungsian Huntara dengan total 1.147 kepala keluarga (KK) atau 4.118 jiwa, PLN memasang 200 an meteran. Satu meteran digunakan lima kepala keluarga. Penyintas saling patungan uang untuk membeli token listrik.

Meski penyintas tetap membeli pulsa listrik, PLN tetap mengalami kerugian. Pendapatannya tidak sebanding sebelum bencana.

“Tetapi dari sisi sosial, PLN tetap hadir untuk memberi bantuan kepada korban bencana. Kami juga tidak tinggal diam. Jaringan ke sana kami bangun, meteran juga kami sediakan,” ucapnya.

PLN sejatinya memberikan dukungan moril dan bantuan logistik kepada warga penyintas sejak awal erupsi. Selain itu, PLN ULP Larantuka juga membantu perangkat pembangkit listrik bertenaga 8,5 KVA untuk Pos PGA Lewotobi Laki-laki yang berkantor di Desa Pululera.

Arya memastikan pelayanan untuk masyarakat tetap optimal. Petugas lapangan bergerak cepat ke lokasi saat terjadi gangguan. Cuaca ekstrem menjadi hambatan paling utama terhadap stabilitas listrik.

Pantauan Ekora NTT, sebuah gardu di Desa Hokeng Jaya tampak berkarat dengan sejumlah kabel yang terlepas dari tiang listrik.

Meski lampu di sana padam, sejumlah warga masih beraktivitas. Mereka adalah petani dan peternak yang kembali ke kampung untuk bekerja demi membiayai hidup di pengungsian.

Di sekitar gardu terdapat rumah yang atapnya hancur akibat abu vulkanik. Kabel-kabel pada bubungan atapnya juga terlepas.

Permukiman yang berada di kawasan risiko bencana (KRB) III erupsi Lewotobi Laki-laki itu akan direlokasi pemerintah ke hunian tetap (Huntap).

Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA