Larantuka, Ekorantt.com – Aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Flores Timur mengkritik rencana Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk membeli dua unit eksavator senilai Rp5 miliar.
Rencana belanja dua alat berat itu diambil dari dana bantuan kemasyarakatan Presiden Prabowo Subianto untuk pemulihan dampak gempa bumi sebesar Rp20 miliar.
Ketua DPC GMNI Flores Timur, Krisantus Kenato, meminta pemerintah mengevaluasi rencana itu karena tak sesuai dengan tujuan anggaran untuk penanganan warga terdampak, termasuk bencana Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Apakah ini mendesak? Saat ini 790 kepala keluarga korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada di Huntara. Kami khawatir ini menjadi alat proyek. Bagaimana mungkin sasaran bantuan adalah rakyat terdampak bencana, tetapi Pemda mengadakan eksavator,” ujar Krisantus kepada Ekora NTT pada Selasa, 1 September 2026.
Ia menyarankan Pemkab Flores Timur untuk memanfaatkan anggaran yang ada sebagai penyangga logistik bagi penyintas erupsi Lewotobi Laki-laki.
“Penggunaannya harus sesuai. Jangan sampai melenceng ke program lain. Jika prioritas salah di awal, dampaknya panjang. Uang habis untuk beli aset, tapi kebutuhan dasar 790 kepala keluarga tidak selesai,” ucapnya.
Sekretaris DPC GMNI Flores Timur, Maria Margaretha Masa Baodai, meminta pemerintah transparan dan menjunjung akuntabilitas kepada publik.
Maria menyoroti risiko pada pos anggaran besar tanpa kontrol, seperti jaminan hidup Rp5,8 miliar dan bantuan sosial tak direncanakan sebesar Rp6,039 miliar. Pihaknya meminta pertanggungjawaban yang lebih transparan, tidak seperti penggunaan dana bencana pada 2024 dan 2025 yang dinilai sangat tertutup.
Maria menilai bantuan untuk pendidikan pengungsi sangat kecil yakni hanya Rp600 juta atau tiga persen dari total bantuan kemasyarakatan oleh kepala negara.
“Intinya, dana bencana menyangkut hak dasar warga seperti beras, sekolah, tempat tinggal. Tanpa keterbukaan, yang pertama dirugikan adalah pengungsi. Keterbukaan bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk memastikan bantuan tepat sasaran,” kata Maria.
Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, sebelumnya mengonfirmasi dana sebesar Rp20 miliar yang telah diterima daerah. Pihaknya kemudian melakukan sejumlah tahapan hingga persetujuan oleh pemerintah pusat sebelum digunakan sesuai kebutuhan warga.
“Dana sudah masuk. Sudah rinci pengaturannya, sudah dikonsultasikan dengan pimpinan DPRD, sudah dilaporkan ke Jakarta, dan saat ini masih menunggu verifikasi serta persetujuan,” ujar Anton Doni Dihen.
Ia merincikan anggaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan dasar senilai Rp6,3 miliar, pelayanan kesehatan dan pendidikan Rp827 juta, sarana dan prasarana sebesar Rp6,7 miliar, dan bansos yang tidak direncanakan Rp6,39 miliar.
Khusus sarana, Pemkab Flores Timur berencana membeli dua unit eksavator untuk membuka jalur terisolasi dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, termasuk membuka jalur evakuasi bagi ribuan warga di sejumlah desa ketika terjadi erupsi eksplosif susulan.
Sedikitnya empat jalur vital di Kecamatan Ile Bura dan Wulanggitang yang sering putus saat datang banjir lahar dingin di musim hujan.
Eskalasi banjir yang menyeret batu hingga lumpur dari Gunung Lewotobi Laki-laki mengancam keselamatan bagi pengguna jalan. Tidak hanya itu, banjir juga menerobos ke pemukiman warga Desa Nurabelen, Nobo, Dulipali, dan Nawokote.
Dalam catatan Ekora NTT yang dihimpun berdasarkan hasil riset PVMBG, material vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki mencapai 3 juta ton kubik. Material ini kerap terseret banjir dalam skala yang besar.
Pemerintah daerah melalui dinas teknis dibuat kewalahan saat eskalasi banjir. Salah satunya lantaran ketiadaan alat berat. Alat berat sering dipinjam lewat sewa kepada pihak ketiga atau rekanan.
Penulis: Paul Kabelen













