Dua Korban Gempa Flores Timur Bakal Terima Santunan Rp75 Juta

"Untuk korban, seperti direncanakan, dikasih santuan Rp75 juta. Sekarang ini kita masih menunggu verifikasi dan persetujuannya," ujar Anton, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Larantuka, Ekorantt.com – Dua warga korban gempa Flores di Kabupaten Flores Timur, NTT, dipastikan mendapat dana santunan masing-masing senilai Rp75 juta. Santunan duka itu diberikan melalui tahapan kebijakan daerah terhadap dana bantuan kemasyarakatan Presiden sebesar Rp20 miliar yang telah diterima pemerintah setempat.

“Anggarannya sudah ada, datanya ada sehingga secara teknisnya diatur. Saya juga sampaikan ke dinas teknisnya soal dua warga kita itu,” ujar Wakil Bupati Ignas Boli Uran, Selasa, 1 September 2026.

Dua korban dimaksud yakni Bernadus Muda, warga Desa Lewopao, Kecamatan Ile Boleng, dan Mateus Noba Noba, warga Desa Waiula, Kecamatan Wulanggitang.

Bernadus meninggal akibat tertimpal reruntuhan bangunan di Pelabuhan Lorens Say Maumere ketika terjadi gempa pada 15 Agustus 2026 pagi. Sementara Mateus, 74 tahun, meninggal saat menyelamatkan diri.

Mateus yang berlari keluar rumah bersamaan dengan hentakkan gempa magnitudo 7,7 itu lantas terjatuh dan menabrak pintu di depan rumahnya di Waula. Keluarga dan petugas kesehatan setempat mendapatinya dalam kondisi tak bernyawa beberapa saat setelah terjatuh.

Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, dalam wawancara sebelumnya, mengatakan dalam rencana penggunaan anggaran, santunan duka Rp75 juta iberikan kepada ahli waris penerima. Realisasi dana duka masih menunggu persetujuan pemerintah pusat.

“Untuk korban, seperti direncanakan, dikasih santuan Rp75 juta. Sekarang ini kita masih menunggu verifikasi dan persetujuannya,” ujar Anton, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Anton menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas atensi tersebut. Ia lalu merincikan anggaran itu akan digunakan untuk kebutuhan dasar senilai Rp6,3 miliar, pelayanan kesehatan dan pendidikan Rp827 juta, sarana dan prasarana sebesar Rp6,7 miliar, dan bansos yang tidak direncanakan Rp6,039 miliar.

Lebih detail, Anton merinci kebutuban dasar meliputi belanja beras dengan total harga Rp4,1 miliar, minyak goreng Rp684 juta, gula pasir ditambah kopi dan teh Rp798 juta, kemudian Rp798 juta untuk belanja sabun mandi, odol, sampo, dan sabun cuci.

Berikutnya, kesehatan dan pendidikan yakni pelayanan dasar psikososial Rp25 juta untuk transportasi psikolog, biaya penginapan Rp8,2 juta, lumpsum Rp9,5 juta, honor psikolog Rp120 juta, alat permainan dan hadiah Rp63,7 juta, dan bantuan pendidikan pengungsi Rp600 juta.

Sarana dan prasarana meliputi pembukaan jalan dari calon lokasi hunian tetap di Kuhe ke jalan negara di Desa Konga Rp500 juta, pembukaan jalan ruas Boru Kedang ke Hewa untuk jalur evakuasi Rp1 miliar, pengadaan ekskavator pembuka jalur yang terisolasi akibat erupsi di Kecamatan Ile Bura dan Wulanggitang Rp5 miliar, pembangunan sanitasi di hunian sementara Rp200 juta, dan penyediaan tinja di hunian sementara Rp50 juta.

Sementara bantuan sosial yang tak terencana berkaitan dengan jaminan hidup pengungsi sebesar Rp5,8 miliar dan santunan kematian Rp225 juta.

Penulis: Paul Kebelen

TERKINI
BACA JUGA