Larantuka, Ekorantt.com – Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di antara Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, turun status dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Rabu, 16 September 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan status waspada ditetapkan pada pukul 08.00 Wita setelah serangkaian hasil analisis yang menunjukkan penurunan aktivitas vulkanik sejak awal September 2026.
“Penurunan aktivitas vulkanik ditunjukkan oleh berkurangnya aktivitas erupsi di permukaan, tidak terekamnya gempa erupsi, menurunnya beberapa jenis kegempaan di zona dangkal, serta tidak teramatinya pola inflasi berdasarkan pengamatan deformasi GNSS maupun tiltmeter,” katanya melalui laporan tertulis yang dibagikan Pos PGA Lewotobi Laki-laki.
Namun demikian, aktivitas di dalam tubuh gunung api berketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu masih berlangsung dan potensi erupsi masih tetap ada namun dengan skala yang lebih kecil.
“Secara visual, aktivitas erupsi mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Gunung Lewotobi Laki-laki terakhir mengalami erupsi pada 31 Agustus,” jelasnya.
Lana Saria menjelaskan hasil pemantauan menggunakan drone pada 10 September memperlihatkan kondisi kawah terlihat sangat jelas. Hasil foto udara tak teramati adanya sumbatan lava di kawah area puncak gunung tersebut.
Ia berkata, kondisi tersebut menunjukkan kawah masih relatif terbuka dan belum terdapat indikasi pembentukan sumbatan lava yang menyebabkan akumulasi tekanan secara signifikan pada bagian atas konduit.
Dengan status waspada, radius aman dipersempit dari sebelumnya lima kilometer menjadi empat kilometer dari pusat gunung api. Masyarakat diminta tidak mematuhi radius yang ditetapkan pihak berwenang.
Penyintas Gunung Lewotobi Laki-laki, Yohanes Nandri Bean, gembira dengan penurunan status gunung. Ia dan ribuan warga masih bertahan di pengungsian Huntara di Desa Konga. Mereka kini menanti hunian tetap.
“Semoga berangsur-angsur turun hingga normal kembali,” harap Yohanes.
Pantauan Ekora NTT, saat Lewotobi Laki-laki berada pada Level Siaga, banyak warga nekat pulang ke kampungnya di zona merah erupsi. Mereka tetap berkebun, beternak, dan membuka usaha.
Warga bahkan memutuskan bermalam beberapa hari di kampung yang tak ada penerangan listrik tersebut. Salah satu alasan menginap agar menekan biaya transportasi pergi dan pulang ke pengungsian. Kampung terdampak menjadi sumber pendapatan petani untuk keberlanjutan hidup.
Penulis: Paul Kabelen













