63 Penyintas Lewotobi Meninggal di Huntara, Pemerintah Didesak Tuntaskan Hunian Tetap

Persoalan mulanya mengemuka ketika para civitas akademika IFTK Ledalero melakukan analisis sosial (Ansos) di huntara Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, belum lama ini.

Larantuka, Ekorantt.com – Angka kematian bagi penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur di pengungsian bencana cukup tinggi.

Data sementara yang dihimpun dari tiga pemerintah desa pada Rabu, 21 Oktober 2026, angka kematian di hunian sementara (huntara) selama 2024-2026 mencapai 63 jiwa.

Jumlah tersebut meliputi Desa Nawokote 27 jiwa, Desa Klatanlo 22 jiwa, dan Desa Dulipali 14 jiwa. Sementara tiga wilayah lainnya yakni Desa Hokeng Jaya, Nobo, serta Dusun Podor dan Dusun Kampung Baru di Desa Boru, yang terdapat angka kematian, belum dibeberkan data riilnya.

Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung kemudian menyoroti tingginya angka kematian penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di pengungsian bencana.

Otto juga bagian dari Aliansi Lewotobi bersama JPIC SVD Ende, Karitas Keuskupan Larantuka, Truk F Maumere, GMNI Flores Timur, dan warga penyintas.

Persoalan mulanya mengemuka ketika para civitas akademika IFTK Ledalero melakukan analisis sosial (Ansos) di huntara Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, belum lama ini.

Di sana, ditempati ribuan penyintas dari lima desa selama hampir dua tahun. Huntara itu dibangun di atas tanah tumpang. Ruangan huntara masing-masing berukuran sekitar 4×6 meter persegi.

Otto berkata, angka kematian yang cenderung tinggi disebabkan oleh kondisi lingkungan di pengungsian huntara yang tak sehat, ditambah tekanan psikologis penyintas.

Hal ini dianggap semakin berpengaruh bagi warga rentan seperti lansia serta mereka yang memiliki riwayat sakit sejak awal. Kematian secara tak langsung setelah bencana sedang terjadi di huntara.

“Angka kematian di hunian sementara itu bertambah, karena kondisi yang tidak sehat, mereka hidup dalam rumah yang sempit, ruang privat tidak dijamin, bahkan satu rumah ditempati dua sampai tiga keluarga,” ujar Otto belum lama ini.

Dari temuan itu, Otto Gusti bersama sejumlah imam, biarawati, aktivis mahasiswa, dan para penyintas mendatangi Kantor DPRD Flores Timur untuk rapat dengar pendapat bersama pemerintah daerah setempat pada Senin, 12 Oktober 2026.

Menurut Otto, kondisi di huntara yang tidak sehat dapat memicu rentetan persoalan termasuk merenggut korban jiwa. Otto lantas meminta agar Hak asasi manusia penyintas harus dijamin sepenuhnya oleh negara.

Terhadap kondisi itu, ia bersama aliansi penyintas Lewotobi mendorong pemerintah agar bergerak cepat menuntaskan hunian tetap bagi para korban bencana.

Penyintas Lewotobi di huntara juga berharap agar pemerintah mengambil langka antisipasi atau pencegahan banjir sebelum tiba musim hujan.

“Ini yang kami khawatirkan, sebentar lagi musim hujan,” kata Adrian Mbaji, penyintas.

Selain kondisi huntara yang tidak aman dan nyaman, sejumlah wadah septic tank tempat menampung kotoran sudah meluap, membuat permukiman beraroma tak sedap. Belum lagi sumur bor dangkal yang menyuplai air kotor.

Penulis: Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA