Kapal Pelra di Flores Timur Sulit Dapat Solar, Harga Tembus Rp12 Ribu per Liter

Tarsisius bilang, kondisi Flores Timur dengan banyak kapal pelra tradisional membutuhkan banyak kuota solar.

Larantuka, Ekorantt.com – Masalah Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih sulit terurai. Kapal pelayaran rakyat (Pelra), jasa transportasi laut bagi penumpang dan pengantar logistik antarpulau pun terkena dampaknya.

Selasa, 27 Oktober 2026, Kapal Motor (KM) Sinar Mutiara kesulitan mendapatkan solar. Kapal rute Larantuka-Waiwerang-Lembata itu nyaris menunda penyeberangan akibat ketiadaan bahan bakar.

“Solar mau satu minggu ini sulit sekali, kami tadi pagi cari setengah mati,” ujar Simon, Anak Buah Kapal (ABK) Sinar Mutiara kepada Ekora NTT pada Selasa pagi.

KM Sinar Mutiara yang bermuatan puluhan penumpang, sejumlah sepeda motor, hingga sembako tidak berangkat tepat waktu. Kapal baru berangkat pukul 09.00 Wita setelah solar didatangkan dari kapal-kapal nelayan.

“Iya, tidak beli di pom tetapi di kapal nelayan, harganya Rp12 ribu per liter,” kata Simon.

Pelayaran rakyat seperti KM Sinar Mutiara membutuhkan sekitar total 500 liter solar untuk operasional pergi dan pulang. Harga Rp12 ribu per liter memberatkan penyedia jasa.

Kapal pelra seperti KM Sinar Mutiara serta kapal lainnya selama ini tidak disediakan kuota khusus, meski memegang peran krusial membantu mendistribusi logistik dari pusat kota ke ribuan jiwa di Pulau Adonara, Solor, serta Kabupaten Lembata.

Simon menguraikan biaya penyeberangan Larantuka-Waiwerang sebesar Rp25 ribu per penumpang dan Larantuka-Lembata Rp50 ribu per penumpang. BBM dari pihak lain mengakibatkan pembengkakan biaya operasional.

Simon berharap masalah BBM subsidi dari hulu ke hilir dapat terurai secara lebih tertib, tepat sasaran, dan stabil.

Kepala Bagian (Kabag) Sumber Daya Alam (SDA) Flores Timur, Tarsisius Kopong berkata, kapal pelra selama ini mengambil BBM pada SPBU di sekitar tempat kapal berlabuh. Tidak ada stasiun atau pangkalan khusus BBM bagi kapal-kapal pelra.

Menurutnya, distribusi solar di Flores Timur beberapa waktu terakhir mengalami kendala di depot Maumere.

Pihaknya sedang membangun koordinasi sembari terus berupaya mengusulkan kuota BBM khusus untuk Pelra ke BPH Migas.

Tarsisius bilang, kondisi Flores Timur dengan banyak kapal pelra tradisional membutuhkan banyak kuota solar. Namun, ungkapnya, kapal perla setempat kebanyakan tidak dilengkapi dokumen sebagai salah satu dari sekian banyak syarat pengusulan.

“Kami sudah usulkan kuota khusus, peluang ini perlu kita manfaatkan tetapi diharapkan agar dokumen kapalnya lengkap supaya nanti kita bisa dapat kuota khusus,” katanya.

Penulis: Paul Kebelen

TERKINI
BACA JUGA