Seminari San Dominggo Hokeng Gelar Pameran Seni Rupa “Lorong 69”

Hokeng, Ekorantt.com – Memperingati dies natalis ke-69, Seminari San Dominggo Hokeng menggelar pameran seni rupa bertajuk “Lorong 69: Waktu Saya Berada dalam Tangan-Mu”. Pameran tersebut dilangsungkan di sepanjang koridor kelas sebelah timur kapela seminari Hokeng sejak tanggal 13 sampai dengan 15 Agustus 2019.

Acara pembukaan berlangsung sederhana di sekitaran venue acara, dipimpin langsung oleh Praeses Seminari San Dominggo Hokeng, RD. Gregorius Harian Lolan, Pr bersama dengan segenap civitas akademika Seminari Hokeng, para imam, frater dan guru.

Dalam sambutan singkatnya, RD. Gius, demikian Praeses ini disapa, memberi beberapa penekanan penting mengenai makna penyelenggaraan pameran bagi Komunitas Seminari yang kian beranjak tua usianya. Merujuk pada evaluasi jelang sosialisasi Sinode Keuskupan Larantuka, RD. Gius berharap agar pameran ini tidak hanya sebuah ajang show kehebatan seminari belaka, tetapi juga harus menjadi bahan refleksi dan kritik bagi kehidupan internal komunitas.

“Kita berjuang di Seminari ini bukan sekedar kembung keluar membuat pameran tetapi juga agar kita mengisi ke dalam diri kita nilai-nilai yang bisa melahirkan generasi-generasi penerus. Kita tidak boleh hanya sekedar survive. Kita harus buktikan bahwa kita hidup dan terus berkarya”, demikian RD. Gius.

Lebih jauh, RD. Gius menjelaskan, pameran ini juga menjadi momen yang tepat bagi Komunitas Seminari Hokeng untuk merefleksikan perjalanan seminari dalam waktu, entah waktu yang bersifat sirkular (kairos) maupun yang bersifat linear (kronos). 

iklan

“Kita melalui Lorong 69,  secara kronologis menyadari perjalanan seminari ini dari masa ke masa sekaligus meyakini bahwa dalam perjalanan itu, ada Tangan Waktu Ilahi yang senantiasa memberkati kita”, demikian RD. Gius menutup sambutannya.

RD. Inosensius Soni Koten, Pr selaku inisiator kegiatan pameran ini menjelaskan bahwa Lorong 69  bisa dimasuki melalui dua cara. Pertama, menjelajahi fragmen-fragmen waktu dan ruang yang merepresentasikan perjalanan seminari Hokeng dari masa ke masa. Fragmen waktu dan ruang itu hadir melalui komposisi benda-benda yang pernah ada di seminari dari berbagai masa, yang tersebar di sepanjang koridor pameran. Kedua,  melihat benda-benda itu secara baru sebagai sesuatu yang terlepas dari konteks kehidupan seminari dan mengambil refleksi dari cerapan-cerapan pengalaman indrawi pengunjung sepanjang perjalanannya melalui koridor pameran. 

“Koridor ini coba menghadirkan potongan ruang dan waktu yang sudah sedang dan akan dilalui seminari dalam tiga masa, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sambil menghadirkan itu, saya berharap para pengunjung pameran bisa memaknai bahwa Allah hadir dalam seluruh perjalanan hidup setiap orang: sejarah, masa kini yang penuh dengan banyak perubahan serta desakkan dan masa depan yang tidak selalu jelas sejak awal”, demikian RD. Ino menjelaskan. 

Eka

TERKINI
BACA JUGA