Fransiskus Baran Wato, Kepala Desa Adabang, Kecamatan Titehena, FloresTimur (Foto Sutomo Hurint)

Larantuka, Ekorantt.com – Warga Desa Adabang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pasalnya kondisi ruas jalan Pantai Utara (Pantura) menuju Desa Adabang yang merupakan tanggung jawab pemerintah Propinsi NTT mengalami rusak parah dan terancam putus.

Kepala Desa Adabang, Fransiskus Baran Wato,  kepada Ekora NTT, Selasa, (08/01/2019) menuturkan, pihaknya seringkali menyampaikan keluhan dalam pertemuannya dengan pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten.

Bahkan, Baran Wato sudah sering ‘berteriak ‘melalui media massa, baik cetak maupun online. Namun hingga saat ini jalan penghubung antara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka yang melintasi wilayah Desa Adabang tak kunjung diperbaiki.

“Terakhir disentuh oleh Pemprov belasan tahun lalu dan sejak belasan tahun lalu juga jalan ini rusak parah. Barangkali karena wilayah kita di pelosok dan berada di perbatasan 2 kabupaten, jadi kita selalu dianaktirikan,” tutur Baran Wato ketus.

Salah satu titik jalan di Gedong. Tanggul pembatas jalan jebol dihantam abrasi. Kondisi ini dibiarkan selama belasan tahun oleh Pemerintah Provinsi.

Pantauan Ekora NTT, kondisi ruas jalan Lato-Nedabang berada memprihatinkan. Badan jalan sepanjang 17 kilometer tersebut dihiasi kubangan berlumpur dan genangan air sebab aspal jalan sudah terkelupas.  

Tepat di Gedong, tanggul pembatas jalan sepanjang 100 meter jebol dihantam abrasi dan menyisahkan lubang-lubang yang menganga. Badan jalan di lokasi inipun sebagiannya terancam putus. Para pengguna jalan yang melewati tempat itu terpaksa melewati perkebunan warga.

Frans berharap, jalur Pantura Flotim-Sikka secepatnya diperbaiki dan Pemprov harus mengalokasikan anggaran untuk perbaikan infrastruktur jalan. Sebab, kondisi jalan yang rusak dapat menghambat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

“Kita punya potensi peternakan dan pertanian. Kita punya sapi, kita punya kambing,  babi. Kita punya potensi kelapa dan palawija, juga mete yang menjadi sektor unggulan. Kita juga tengah membangun gerakan revolusi pertanian tapi jika tidak dengan kondisi jalan yang baik maka kesejahteraan warga di desa kami juga tidak meningkat,” ujarnya.

“Kita harap ada perhatian segera. Sehingga kita masyarakat di wilayah perbatasan tidak merasa dianaktirikan,” ketusnya lagi, menutup wawancaranya dengan Ekora NTT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here