Berikut Ini Lima Alat BMKG yang Belum Diketahui Banyak Orang di Mabar

Mbay, Ekorantt.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ternyata telah memasang lima jenis alat untuk memantau unsur-unsur cuaca yang berpotensi menyebabkan bencana alam di Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur.

Lima alat itu terdiri, dua alat peringatan dini dan tiga alat pendeteksi. Alat-alat itu untuk membantu BMKG agar dapat memberikan informasi lebih cepat kepada masyarakat.

“Untuk memantau unsur cuaca di wilayah Manggarai Barat baik cuaca yang di darat maupun di laut. Alat-alat itu lebih kepada memberikan peringatan dini sebelum terjadi bencana,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Mabar, Sti Nenotek, setelah dihubungi Ekorantt.com, Kamis (05/05/2022) petang.

Pertama, BMKG telah memasang alat deteksi otomatis yang digunakan untuk mengukur paramater cuaca untuk keperluan layanan informasi cuaca penerbangan.

Alat itu ialah, Automated Weather Observing System (AWOS) yang berada di Bandara Komodo Labuan Bajo.

“Kalo AWOS sudah dari tahun 2015 waktu itu dipasang AWOS Kategori II, terus tahun 2020 diperbaharui jadi AWOS Kategori III,” terang Sti Nenotek.

Selanjutnya, pada tahun 2018 BMKG juga telah memasang dua alat pemantau arus dan gelombang laut (High Frequency Radar) yang merupakan alat deteksi untuk memantau arah dan kecepatan arus permukaan laut serta tinggi gelombang laut.

Dua HF Radar itu telah terpasang di Pulau Gili Lawa Laut Taman Nasional Komodo dan Sempadan Pantai Karanga, Labuan Bajo.

Alat ketiga ialah sirine tsunami yang berfungsi untuk memberikan peringatan dini tsunami kepada masyarakat. Sirine tsunami dipasang di Puncak Waringin Labuan Bajo pada tahun 2021.

Keempat, BMKG juga memasang Warning Receiver System (WRS) New Generation BMKG pada tahun 2020. Alat itu berfungsi memberikan informasi dini ketika terjadi gempa, sehingga langkah penanganan terhadap informasi bencana yang diberikan akan semakin cepat, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Saat ini, Manggarai Barat memiliki dua alat WRS yang berlokasi di Kantor BPBD Manggarai Barat dan Pos SAR Labuan Bajo.

Terakhir ialah, shelter gempa bumi yang dipasang BMKG pada tahun 2020. Alat ini terdapat sensor seismograf di dalamnya yang bertujuan untuk mengukur getaran yang terjadi pada permukaan bumi.

Saat ini, Kabupaten Manggarai Barat terdapat 5 shelter gempa bumi dengan rincian, 3 shelter yang sudah terinstal sensor seismograf yaitu shelter gempa bumi di Kuwus, Labuan Bajo, dan Golomori.

Sementara dua shelter yang akan diinstal sensor seismograf pada tahun ini terdapat di Pulau Komodo dan Lembor.

“Kalau shelter gempa bumi dan WRS New Generation bisa mendeteksi untuk seluruh wilayah. Kalau peralatan lain hanya di wilayah di mana alat itu ditempatkan,” kata Sti.

Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Margiono, menyebutkan shelter gempa bumi yang terpasang di NTT saat ini sebanyak 26 unit. Tahun ini BMKG berencana menginstal 11 sensor seismograf baik di Labuan Bajo maupun sejumlah wilayah di NTT.

“Jadi kalau ditotal akhir tahun 2024 nanti akan terpasang sebanyak 37 di NTT,” kata Margiono.

TERKINI
BACA JUGA