Larantuka, Ekorantt.com – Bentrok susulan antara warga Desa Narasaosina dan Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, kembali terjadi pada Sabtu malam, 9 Mei 2026.
Warga setempat yang meminta Ekora NTT tidak menyebutkan identitasnya menuturkan dampak konflik antar kedua warga ini menyebabkan tujuh orang terluka dan enam rumah terbakar.
Ia menuturkan, konflik yang memanas sejak beberapa bulan lalu itu dipicu klaim kepemilikan tanah yang belum diurai dengan baik, meski pemerintah daerah dan pihak keamanan telah melakukan mediasi pada Kamis, 26 Mei 2026.
Situasi dilaporkan mulai kondusif dengan pengamanan ketat dari aparat gabungan polri dan TNI.
“Dua hari lalu itu empat rumah, kemarin ada dua rumah juga terbakar,” ujarnya lewat telepon pada Senin, 11 Mei 2026.
Direktur Rumah Sakit Pratama (RSP) Adonara, Danny Gunawan, mengonfirmasi tujuh warga yang terluka dan tiga diantaranya dirujuk ke RSUD dr Hendrikus Fernandez Larantuka pada Minggu pagi.
“Satu orang luka tembak di dada, sudah rujuk semalam. Pagi ini ada lima orang datang ke rumah sakit, tiga orang dirujuk ke Larantuka, luka tembak di bokong dan paha,” bebernya.
Hentikan Beri Bantuan
Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen menyebut pemerintah tak akan memberikan bantuan apa pun terhadap pihak yang berkonflik.
Ia menegaskan, perang merupakan pilihan warga sehingga segala konsekuensi ditanggung sendiri, termasuk biaya pengobatan bagi yang terluka. Ia menilai konflik berulang di Adonara Timur tidak bisa terus menerus diurus dengan bantuan.
“Sudah berulang kali menyampaikan bahwa keputusan untuk berperang adalah pilihan mereka sendiri. Karena itu, biaya rumah sakit harus ditanggung oleh masyarakat desa masing-masing,” ujarnya.
“Kami berharap pemerintah pusat juga tegas. Jangan memanjakan dengan memberikan berbagai bantuan,” tambah Anton.
Menurutnya, sikap keras seperti ini harus diambil agar masyarakat benar-benar menyadari konsekuensi dari tindakan mereka.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban, namun menolak memberikan bantuan kepada pihak yang terlibat konflik.
Pemerintah daerah sejatinya telah mengambil sikap tegas, namun banyak pihak berharap mediasi tetap dilakukan agar konflik tidak semakin meluas.
Aparat keamanan juga diminta lebih sigap dalam mengantisipasi bentrokan. Kehadiran polisi dan TNI di lokasi diharapkan mampu meredam ketegangan dan mencegah konflik susulan.
Paul Kabelen













