Ende, Ekorantt.com – Sebanyak 36 tenaga pendidik yang tergabung dalam komunitas Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor melakukan studi banding dan wisata edukasi di Kabupaten Ende. Rombongan guru ini berada di Ende selama sepekan sejak tanggal 18-24 Mei 2026.
Di Ende mereka mengunjungi tempat wisata sejarah Situs Bung Karno dan studi banding tentang manajemen pendidikan di tiga lembaga sekolah yakni SDI Ende 14, SDK St. Ursula, dan SD GMIT Ende 4.
Sekretaris K3S, Anderias Saitakela mengaku, mereka memilih Ende karena memiliki nilai inspirasi berdasarkan histori sejarah sebagai kota rahimnya Pancasila.
“Kami datang melihat langsung situs-situs sejarah tersebut agar bisa mentransformasikan semangat dan nilai-nilai itu kepada anak didik kami di kelas,” ungkap Anderias di Ende pada Selasa, 19 Mei 2026.
Selain faktor histori, prestasi di dunia pendidikan, sebab Ende masuk nominasi tuntas pratama atau lima besar terbaik di NTT kategori literasi dan numerasi. Prestasi ini menjadi daya tarik para pendidik di Kabupaten Alor untuk melakukan studi banding.
“Yang berikut dari sisi tata kelola dan manajemen pembelajaran dan pendidikan untuk Kabupaten Ende lima besar di NTT,” tuturnya.
Di hari pertama tiba di Ende, para guru ini berkunjung ke tempat sejarah yakni Taman Renungan Bung Karno, Rumah Pengasingan, dan Serambi Bung Karno.
“Setelah itu kita istirahat untuk melanjutkan agenda besok dan lusa yakni studi banding ke sekolah dasar,” pungkas Anderias.
Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi para tenaga pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, Venantius Minggu mengatakan kunjungan tersebut merupakan pemicu bagi Pemkab Ende dalam mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik.
“Sebenarnya kehadiran teman-teman daerah itu pemicu untuk kita, tidak boleh surut dalam membangun dunia pendidikan di Ende,” ungkap Venantius.
Ia menegaskan meskipun Ende dikenal sebagai kota pelajar, kunjungan para guru tersebut merupakan sesuatu yang positif bagi lembaga pendidikan.
Sebab, di dalam kunjungan ini akan saling membagi pengalaman dan ilmu demi meningkatkan mutu pendidikan.
“Kita saling tukar menukar keberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran dunia pendidikan. Kita belajar pengalaman dari Alor itu seperti apa, kita terima di Kabupaten Ende, pengalaman dari Ende itu mereka belajar untuk bisa bawa pulang ke Alor,” kata Venantius.
Ia menambahkan, pihaknya menyiapkan tiga sekolah yang menjadi model pembelajaran dari aspek peningkatan penguatan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter.
“Dari aspek pendidikan, budaya, mereka belajar dari Kabupaten Ende,” tandasnya.













