Oleh: Said Abdullah*
Pagi itu Ketty sudah berada di kebun sayurnya di Desa Wae Lolos sebelum matahari benar-benar tinggi. Ia memeriksa berbagai tanaman yang tumbuh di lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya. Dari kebun sederhana itu ia membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, membayar biaya sekolah anak, dan memastikan dapur tetap mengepul setiap hari.
Wae Lolos bukan desa biasa. Desa yang berada di Kecamatan Sano Nggoang ini dikenal sebagai salah satu desa penyangga wisata di Manggarai Barat. Bentang alamnya yang subur membuat masyarakat masih menggantungkan hidup pada pertanian, mulai dari kopi, cengkeh, kemiri, hingga berbagai tanaman pangan dan sayuran. Namun posisi sebagai desa penyangga wisata juga membawa tantangan baru. Pertumbuhan ekonomi yang datang bersama pariwisata menciptakan peluang, sekaligus tekanan terhadap sistem pangan lokal.
Beberapa tahun terakhir, Ketty merasakan perubahan yang tidak kecil. Bertani menjadi semakin tidak pasti. Biaya produksi naik. Cuaca semakin sulit ditebak. Harga hasil panen sering kali tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
Di saat yang sama, sekitar satu jam perjalanan dari kebunnya, Labuan Bajo terus tumbuh menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Indonesia. Hotel-hotel baru berdiri. Restoran semakin ramai. Kapal wisata hilir mudik membawa wisatawan menikmati keindahan laut Flores dan Taman Nasional Komodo. Investasi terus mengalir. Pembangunan berlangsung hampir di setiap sudut kota.
Data statistik menunjukkan jumlah hotel dan akomodasi di Manggarai Barat meningkat dari sekitar 116 unit pada tahun 2020 menjadi 164 unit pada tahun 2025. Pada Juli 2025, tingkat hunian hotel berbintang mencapai lebih dari 73 persen. Pada bulan yang sama, Bandara Komodo melayani lebih dari 133 ribu penumpang.
Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula kebutuhan pangan yang harus dipenuhi.
Namun jarang ada yang bertanya: dari mana semua makanan yang tersaji di hotel, restoran, kapal wisata, dan rumah-rumah makan itu berasal?
Padahal sebelum sampai ke meja wisatawan, pangan tersebut melewati perjalanan panjang. Ada petani yang menanamnya. Ada nelayan yang menangkapnya. Ada perempuan yang mengolahnya. Ada desa-desa yang setiap hari bekerja menyediakan kebutuhan dasar bagi kota wisata. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan Labuan Bajo, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang masa depan desa-desa di Manggarai Barat. Dengan berkembangnya Labuan Bajo, muncul satu pertanyaan sederhana: Ketika desa menopang kota wisata, lalu siapa yang menopang desa?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, KRKP pada tahun 2024 melakukan pengukuran Indeks Kedaulatan Pangan (IKP) di sepuluh desa dan kelurahan di Manggarai Barat.
Berbeda dengan ukuran ketahanan pangan yang biasanya hanya melihat apakah pangan tersedia atau tidak, IKP mencoba melihat persoalan yang lebih mendasar. Apakah masyarakat memiliki akses terhadap tanah, air, dan sumber daya produktif? Apakah produksi pangan dapat berlangsung secara berkelanjutan? Apakah pasar bekerja secara adil? Dan apakah sistem pangan lokal tetap hidup?
Dengan kata lain, IKP tidak hanya bertanya apakah masyarakat bisa makan hari ini. IKP juga bertanya apakah mereka memiliki kemampuan untuk menentukan masa depan pangannya sendiri. Hasilnya cukup menarik. Desa Compang Longgo memperoleh skor IKP tertinggi sebesar 67. Disusul Desa Golo Desat dengan skor 63, Desa Wae Lolos 62, Desa Batu Cermin 61, Liang Ndara 60, Kelurahan Gorontalo 59, dan Desa Pantar 58. Sebaliknya, Desa Golo Bilas memperoleh skor 46, Desa Wae Kelambu 44, sementara Kelurahan Labuan Bajo berada pada posisi paling rendah dengan skor 38.
Sekilas hasil ini terlihat aneh, terutama pada desa dan kelurahan yang skor IKP nya paling rendah. Bukankah Labuan Bajo adalah pusat pertumbuhan ekonomi? Bukankah pangan tersedia di mana-mana? Bukankah pasar, restoran, dan jaringan distribusi jauh lebih lengkap dibandingkan desa?
Namun justru di situlah pelajaran pentingnya. Skor rendah tersebut tidak berarti masyarakat dua desa dan satu kelurahan tersebut yang paling lapar atau paling sulit mendapatkan makanan. Justru sebaliknya. Pangan relatif mudah ditemukan di pasar, toko, restoran, maupun jaringan distribusi modern. Namun hasil tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar. Semakin dekat sebuah wilayah dengan pusat pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti semakin kuat kedaulatan pangannya.
Dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebaliknya. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah meningkat. Kontrol masyarakat terhadap sistem pangan melemah. Hubungan antara produsen pangan dan pasar menjadi semakin tidak seimbang. Jika dibaca lebih jauh, hasil IKP menunjukkan bahwa persoalan pangan di Manggarai Barat tidak berada pada satu titik yang sama.
Di banyak desa, akses terhadap lahan, kebun, air, dan sumber pangan lokal masih relatif kuat. Petani masih ada. Pangan lokal masih diproduksi. Namun di balik kekuatan itu, mulai muncul berbagai tekanan yang perlahan menggerus fondasi sistem pangan. Produksi semakin tidak pasti, hubungan pasar semakin timpang, dan semakin sedikit anak muda yang melihat pertanian sebagai masa depan.
Manggarai Barat sebenarnya belum kehilangan fondasi pangannya. Tetapi fondasi itu mulai retak pelan-pelan oleh tekanan yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah persoalan produksi pangan. Dalam berbagai wawancara dan diskusi kelompok, petani berulang kali menyampaikan persoalan yang hampir sama: musim semakin sulit diprediksi, pola hujan berubah, serangan hama dan penyakit meningkat, sementara biaya produksi terus naik.
Bagi sebagian orang, perubahan iklim mungkin terdengar seperti isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi petani, perubahan iklim hadir dalam bentuk yang sangat nyata: waktu tanam yang berubah, hasil panen yang tidak menentu, dan risiko usaha tani yang semakin tinggi.
Ketty merasakan perubahan itu secara langsung. Ada musim ketika hujan datang lebih lambat dari biasanya. Ada saat-saat ketika biaya produksi terus naik, tetapi hasil panen tidak memberikan keuntungan yang sebanding. Karena itu, persoalannya bukan hanya soal cuaca. Ketika musim berubah, petani juga membutuhkan akses terhadap air, informasi, teknologi, modal, dan dukungan yang cukup agar tetap bisa bertahan.
Di sinilah persoalan pangan tidak lagi sekadar urusan pertanian. Ia menjadi persoalan keadilan: siapa yang menanggung risiko, dan siapa yang menikmati manfaat dari sistem pangan yang ada.
Namun persoalan pangan di Manggarai Barat tidak berhenti di kebun dan sawah.
Persoalan lain muncul ketika kita melihat hubungan antara desa-desa produsen pangan dan Labuan Bajo sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula kebutuhan pangan yang harus dipenuhi. Namun kebutuhan yang besar tidak otomatis membuat petani menjadi lebih sejahtera.
Sebagian besar petani masih menjual hasil produksinya dalam bentuk bahan mentah. Mereka menanggung risiko produksi, cuaca, hama, dan fluktuasi harga. Sementara nilai tambah terbesar justru tumbuh di sektor perdagangan, distribusi, hotel, restoran, dan jasa wisata. Pangan bergerak dari desa menuju kota. Tetapi keuntungan ekonomi tidak selalu bergerak kembali ke desa.
Ironisnya, sebagian kebutuhan pangan Labuan Bajo masih dipasok dari luar Manggarai Barat. Beras, telur, ayam, sayuran, buah-buahan, bawang, dan berbagai komoditas lainnya masih rutin didatangkan dari Lombok, Sulawesi, Jawa, dan wilayah lain di Nusa Tenggara Timur. Situasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan wisata belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan sistem pangan lokal.
Bagi Ketty dan banyak petani lainnya, persoalan ini mungkin tidak terlihat dalam bentuk grafik atau angka. Mereka merasakannya ketika biaya produksi terus naik, tetapi harga jual hasil panen tidak banyak berubah. Sayuran yang ditanam petani di desa-desa sekitar Labuan Bajo belum tentu menjadi pilihan utama rantai pasok hotel dan restoran yang tumbuh semakin pesat.
Pertanyaan berikutnya adalah: ke mana arah pembangunan Manggarai Barat akan bergerak?
Sulit untuk tidak melihat pengalaman Bali sebagai sebuah pelajaran penting. Puluhan tahun lalu Bali juga dikenal sebagai wilayah agraris dengan bentang sawah yang luas dan sistem pertanian yang kuat. Namun pertumbuhan pariwisata yang sangat cepat kemudian mengubah lanskap tersebut secara perlahan. Ribuan hektare lahan pertanian beralih fungsi menjadi hotel, vila, restoran, kawasan komersial, dan berbagai fasilitas pendukung wisata lainnya.
Tentu Labuan Bajo bukan Bali. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam semalam. Ia dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap biasa, sampai suatu hari orang menyadari bahwa sesuatu yang penting telah hilang. Beberapa gejala awal mulai terlihat. Jumlah hotel terus bertambah. Investasi meningkat. Harga tanah bergerak naik. Kebutuhan pangan sektor wisata semakin besar. Jika tidak diantisipasi sejak dini, pertanyaan yang pernah muncul di Bali dapat kembali muncul di Manggarai Barat: Apakah pariwisata akan tumbuh bersama pertanian? Ataukah pertanian perlahan akan tersingkir oleh pembangunan yang justru ditopangnya sejak awal?
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah regenerasi petani. Di banyak desa, merantau bukan lagi pilihan yang luar biasa. Ia telah menjadi bagian dari strategi hidup keluarga. Sebagian bekerja di sektor pariwisata. Sebagian pergi ke Bali, Kalimantan, atau Papua. Sebagian lagi memilih pekerjaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanian. Mereka pergi bukan karena tidak mencintai desa.
Mereka pergi karena sedang mencari kehidupan yang lebih pasti. Sensus Pertanian 2023 mencatat sekitar 225 ribu petani milenial di Nusa Tenggara Timur atau sekitar seperempat dari total petani yang ada. Angka ini menunjukkan bahwa regenerasi masih berlangsung, tetapi belum cukup kuat untuk menjamin masa depan pertanian dalam jangka panjang. Jika pertanian tidak mampu memberikan kehidupan yang layak, semakin banyak anak muda yang akan meninggalkannya.
Besok pagi Ketty mungkin akan kembali ke kebunnya di Wae Lolos. Ia akan menanam, merawat, dan memanen seperti yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Pertanyaannya bukan apakah Ketty masih mau Bertani tapi apakah sistem pembangunan yang sedang kita bangun masih memberi ruang bagi orang-orang seperti Ketty untuk tetap bertani.
Sebelum ada hotel, restoran, bandara, dan kapal wisata, desa-desa di Manggarai Barat sudah lebih dahulu memberi makan wilayah ini. Orang-orang seperti Ketty telah menanam pangan jauh sebelum Labuan Bajo dikenal dunia. Karena itu, masa depan Labuan Bajo pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang setiap tahun. Ia juga ditentukan oleh apakah petani masih memiliki lahan untuk ditanami, apakah anak muda masih melihat masa depan di desa, dan apakah pangan lokal tetap mendapat tempat di tanahnya sendiri.
Kota wisata bisa tumbuh karena investasi. Tetapi ia hanya bisa bertahan jika desa-desa yang menopangnya tetap hidup. Dan pembangunan yang adil memastikan desa tidak padam.
*Penulis merupakan pegiat kedaulatan dan sistem pangan di Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).













