Ruteng, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Manggarai menyiapkan bantuan seng, paku, dan stimulan pembangunan 220 ruang kelas darurat (RKD) bagi 130 sekolah terdampak gempa bumi Flores.
Bantuan ini mencakup satuan pendidikan PAUD/TKK, SD, dan SMP, baik negeri maupun swasta.
Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit berkata, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar (KBM) tetap berlangsung meski dalam kondisi darurat.
Selain itu, langkah tersebut sekaligus menyediakan ruang belajar yang lebih layak dan nyaman bagi peserta didik, terutama menjelang musim hujan.
“Penyediaan ruang kelas darurat beratap seng merupakan langkah pemerintah daerah untuk menjamin keberlangsungan pendidikan pascagempa,” kata Nabit ketika ditemui sebelum kegiatan Launching RKD Dukungan Pemerintah Kabupaten Manggarai di SMP Negeri 4 Langke Rembong pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Ia berkata, penggunaan tenda terpal sebagai tempat belajar sementara dinilai kurang memadai untuk menunjang kenyamanan peserta didik, khususnya menjelang musim hujan.
Karena itu, pengadaan seng dan paku tersebut didukung anggaran yang bersumber dari pemerintah pusat.
“Pada tahap awal, bantuan disiapkan untuk 130 sekolah, yang terdiri atas 23 PAUD/TKK, 96 SD, dan 21 SMP, dengan total sebanyak 220 ruang kelas darurat,” ucapnya.
Melalui skema ini, menurut Nabit, pemerintah berharap kebutuhan material utama untuk atap ruang kelas darurat dapat terpenuhi.
Sementara material pendukung seperti kayu, bambu, tali, serta bahan penutup bagian samping bangunan, diharapkan dapat dipenuhi melalui swadaya orang tua murid dan dukungan masyarakat.
Ia menambahkan, pembangunan ruang kelas darurat beratap seng ini juga melengkapi bantuan ruang kelas darurat berupa tenda dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Bantuan pemerintah pusat tersebut tetap dimanfaatkan sesuai dengan alokasi yang telah diberikan kepada masing-masing sekolah,” katanya.
Ia berujar, jumlah ruang kelas darurat yang dibutuhkan setiap sekolah disesuaikan dengan tingkat kerusakan bangunan dan kebutuhan pembelajaran.
Dengan demikian, dukungan pemerintah daerah ini diharapkan dapat melengkapi bantuan pemerintah pusat, terutama bagi sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Nabit menambahkan, pembangunan ruang kelas darurat ini tidak hanya bertujuan memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung selama masa darurat pascagempa, tetapi juga mendukung kelancaran pembelajaran selama proses rehabilitasi dan revitalisasi bangunan sekolah.
Melalui penyediaan ruang kelas darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai berupaya memastikan peserta didik tetap memperoleh akses pendidikan di tengah penanganan dampak gempa bumi.
“Ruang kelas darurat diharapkan menjadi solusi sementara yang lebih memadai hingga bangunan sekolah dapat diperbaiki atau dibangun kembali,” tuturnya.
Robert Na Endi Jaweng, anggota Ombudsman RI berkata, siswa tidak boleh kehilangan kesempatan belajar pascagempa.
Dalam pemantauannya di lokasi bencana, masih terdapat banyak sekolah yang masih kekurangan tenda untuk digunakan kelas darurat.
“Tenda itu ukurannya tidak terlalu panjang,” ungkapnya dalam Rapat Koordinasi dan Penyampaian Hasil Monitoring Pascabencana di Ruteng awal Oktober.
Dengan kondisi tenda yang ada, Endi Jaweng khawatir bila terjadinya hujan dan angin kencang. Tendanya pasti roboh.
Ia mengatakan, perhatian di pendidikan sangat penting, tidak boleh mengorbankan masa depan anak-anak.
“Perhatian itu tetap harus diberikan agar mereka tidak terjadi learning loss itu, kehilangan fase pembelajaran yang membuat kemudian mereka ke depan tidak pasti dalam soal mutu dan sebagainya.”
Sejauh pengamatannya, tenaga pendidik dan guru masih dalam posisi semangat menjalani proses belajar dan mengajar, namun fasilitasnya harus ditambah.
Beberapa temuannya, ketersediaan tenda tidak sesuai jumlah siswa di sekolah. Sekolah terpaksa menerapkan sistem bergantian berdasarkan kelas dan hari.
Karena itu, ia meminta pemerintah untuk penambahan tenda di sekolah-sekolah.
“Jadi, dalam satu jam yang sama itu secara umum ada tiga kelas yang kemudian mendapatkan proses belajar dan mengajar. Satu sama lain pasti saling kedengaran karena dekat, dan tendanya kan tidak ada sekat,” kata Endi.
Pemkab Manggarai Siapkan 220 Kelas Darurat
Sejauh pengamatannya, tenaga pendidik dan guru masih dalam posisi semangat menjalani proses belajar dan mengajar, namun fasilitasnya harus ditambah.













