UMKM Terseok-seok di Tengah Pandemi

Ruteng, Ekorantt.com – Virus corona  atau Covid-19 tidak hanya membawa dampak buruk bagi kesehatan, tapi juga menyasar sisi lain kehidupan manusia, seperti sosial dan ekonomi.

Di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, dan Borong, ibu kota Manggarai Timur, misal, sejumlah pelaku UMKM mengeluh soal rendahnya pemasukan harian mereka pasca virus corona menyasar indonesia selama lebih dari sebulan ini.

“Sekarang sepi. Beda dengan sebelumnya, pembeli banyak,” cerita salah seorang penjual sayur di Pasar Ruteng, Yustina Jegaut pada pertengahan April 2020 lalu.

Menurutnya, akibat berkurangnya pembeli yang datang ke pasar tersebut, berbanding lurus dengan pendapatan hariannya.

“Terasa betul. Untuk beli makan-minum di rumah, sekarang terasa sulit. Kalau sebelum virus ini kan sayur laris terjual, begitu juga pemasukan kita tiap hari lumayan, sehingga tidak terlalu sulit untuk beli kebutuhan makan minum di rumah,” katanya.

Yustina yang mengaku hanya mengharapkan keuntungan dari hasil penjualan sayur untuk memenuhi kebutuhan keluarga- termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya itu- berharap agar pemerintah Kabupaten Manggarai bisa memperhatikan nasib penjual sayur di pasar tersebut.

Di Kabupaten Manggarai, pemerintah telah menyiapkan dana Rp12 miliar untuk bantuan jaring perlindungan sosial atau social safety net bagi keluarga yang terkena dampak Covid-19.

Bupati Manggarai, Deno Kamelus mengatakan, ada 22.965 Kepala Keluarga (KK) dari total 97.881 KK di kabupaten itu yang akan mendapat bantuan tersebut.

“Bantuan social safety net ini diprioritaskan untuk KK yang tidak sedang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, seperti, PKH dan bantuan sosial lainnya,” kata Deno kepada  Ekora NTT,  Sabtu pagi (18/4/2020).

Ia belum memastikan berapa besaran dana bantuan tersebut untuk setiap penerima. Sebab, Pemkab Manggarai melalui pemerintah desa dan kelurahan, kini sedang mengidentifikasi calon penerima dana tersebut.

“Data KK itu akan diberikan kepada Bupati Manggarai untuk melakukan verifikasi bersama tim gugus tugas, agar bantuan itu tepat sasaran,” katanya.

“Pokoknya didata semua, apapun profesinya termasuk warga yang berpenghasilan tidak tetap seperti ojek dan lain sebagainya. Termasuk juga wartawan yang terkena dampak Covid-19 ini,” urai Deno.

Yustina berharap, Pemkab Manggarai bisa membantu mereka melalui program bantuan sosial tersebut. “Semoga kami juga didata untuk dapat bantuan itu,” ujarnya berharap.

Rendahnya animo konsumen untuk belanja di Pasar Ruteng juga dirasakan oleh salah seorang distributor beras, Anselmus Jehadu. Anselmus mengaku, sebelum mewabahnya Covid-19 di Indonesia, pendapatan hariannya sangat besar.

“Sebelum corona ini, banyak sekali  pembeli beras. Sekarang itu jarang orang datang beli di pasar,” katanya.

Padahal, kata dia, harga beras masih stabil, yakni berkisar Rp10.000 hingga Rp11.000 per/Kg.

Pemilik kedai KopiBee di Borong, Manggarai Timur, Selby, juga mengeluhkan nasib usahanya yang sepi pembeli selama masa pandemi Covid-19 ini.

Menurutnya, sejak sekolah-sekolah diliburkan, pegawai-pegawai kantor bekerja dari rumah dan masyarakat diminta untuk jaga jarak dan tidak boleh berkumpul, sejumlah menu makan dan minum di KopiBee tidak laris terjual seperti  sebelumnya.

“Semoga wabah ini cepat berlalu. Kalau tidak, bisa saja usaha saya ini ditutup sementara,” katanya.

Menurut Shelby, ia tidak punya pilihan lain. Pasalnya, satu-satunya harapan untuk mempertahankan usahanya terus berjalan adalah konsumen.

“Kalau sekolah-sekolah masih libur terus, ya terpaksa kita tutup sementara. Karena konsumen kita itu kebanyakan millenial, yaitu pelajar SMP dan SMA,” tutupnya.

Adeputra Moses & Ambrosius Adir

TERKINI
BACA JUGA