Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi sedang memberikan sambutan pada wisuda Universitas Nusa Nipa Maumere (Foto Tribunnews.com)

Maumere, Ekorantt.com – Revolusi hijau dicanangkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di bawah kepemimpinan Viktor B. Laiskodat-Josef Nae Soi. Salah satu langkah yang ditempuh yakni pembudidayaan kelor.

Kelor dijadikan sebagai komoditi unggulan yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus digunakan untuk memerangi masalah stunting yang terjadi di NTT.

Pada acara wisuda Universitas Nusa Nipa Maumere 2 September lalu, Wagub Nae Soi mempertegas kembali komitmen pemerintah provinsi NTT tentang masa depan kelor dan khasiatnya dalam mengatasi kasus stunting.

Ia menabuh genderang perang melawan stunting dengan mengajak masyarakat untuk menanam dan mengonsumsi kelor.

“Kita harus perang lawan stunting bapa mama, setan saja takut sama kelor,” kata Wagub Nae Soi diiringi tawa dan tepukan.

Ia tantang undangan yang hadir di Aula Nawacita-Unipa bahwa kelor memiliki daya dan kekuatan magis yang tinggi, “penyakit pasti takut kelor, setan saja takut kok”.

Menurut Wagub Nae Soi, kelor menjadi bahan pangan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan di bumi NTT. Hal ini benar mengingat dalam sejumlah riset ditemukan bahwa kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi dan variatif.

Wagub Nae Soi mengajak masyarakat NTT untuk menanam kelor mulai dari pekarangan rumah. Kelor bukan lagi tumbuhan yang hina dina tapi menjadi bahan pangan yang dicari-cari.

“Saya setiap pagi minum teh kelor, sekarang kemana mana juga saya bawa. Ada yang mengira saya baru berusia 55 tahun. Padahal saya lahir tahun 1952. Rahasianya adalah kelor,” ungkap Wagub Nae Soi.

Program revolusi hijau ini didukung oleh berbagai elemen. Duta pangan NTT 2018, Resa Buang pun menjadikan tanaman anti oksidan ini sebagai pangan lokal nomor satu yang dikembangkan tahun ini.

Daun kelor memiliki kandungan 92 nutrisi dan 46 jenis antikoksidan. Kelor mujarab dalam mengatasi sekitar tiga ratus penyakit dan memiliki hampir semua vitamin yang terkandung di dalam sayur dan buah-buahan.

Kini daun kelor dijuluki ramuan ajaib paling bergizi di muka bumi. Tidak ada efek samping yang ditimbulkan saat konsumsi, juga telah diuji coba dan terbukti secara ilmiah.

Tanaman ini dapat dikonsumsi oleh anak-anak kecil dan orang dewasa. Saat ini, mulai banyak diproduksi kapsul herbal yang berbahan baku ekstrak daun kelor.

Olahan daun kelor ini juga sangat dianjurkan bagi ibu hamil dan menyusui karena manfaatnya untuk meningkatkan produksi air susu ibu (ASI) dan mengandung unsur zat gizi mikro yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, seperti beta (B3), kalsium, zat besi, fosfor, magnesium, zink, dan vitamin C.

Dengan kandungan nutrisi yang tinggi, kelor lumrah dijadikan alternatif untuk meningkatkan status gizi ibu hamil di berbagai belahan dunia.

“Kalau di Eropa sana ada yang mengatakan revolusi putih, di sini kita revolusi hijau. Tanam kelor untuk stunting. Tanam kelor untuk usir darah tinggi. Tanam kelor untuk usir kolesterol,” ajak Wakil Gubernur NTT.

Masyarakat harus bangkit mulai dari kemampuan sendiri dan kelor menjadi salah satu harapan untuk bangkitnya orang NTT.

Aty Kartikawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here