Hidup Berpindah-pindah, Lukas Lodan Sekeluarga Menumpang Gubuk Reyot di Urunpigang

Maumere, Ekorantt.comNahas memang nasib yang dialami oleh Lukas Lodan dan Marta Pewa. Pasangan suami istri dengan empat anak ini harus tinggal berpindah-pindah rumah karena tak punya tanah untuk tinggal tetap.

Saat ini mereka terpaksa menumpang sebuah gubuk tak layak huni yang tanahnya diberikan untuk tinggal sementara. Ukuran gubuk ini 4,5 x 3 meter. Berdinding halar (bambu cincang), kondisinya memprihatinkan karena dimakan rayap. Gubuk ini beralaskan tanah. Ada dua bale-bale, satunya sekaligus kamar tamu dan tempat makan. Satunya untuk tidur saling berhadapan tanpa pembatas.

Mencapai gubuk milik Lukas Lodan, dapat ditempuh dari belokan Wairbor Wolomarang dan melewati ruas jalan menuju Aimitat. Ketika tiba di  Urunpigang lokasi gubuknya tidak berada di pinggir jalan tapi kita terpaksa harus masuk lagi ke jalan setapak yang hanya bisa dilewati kendaraan beroda dua.

“Beginilah hidup kami pak,” ujar Lukas Lodan ketika bertemu dengan Ekora NTT pada Jumat, 22 Mei 2020 lalu.

Lukas dan keluarga kecilnya terdaftar sebagai penduduk RT 012 Urunpigang Kelurahan Wailiti.

“Tempat tinggal kami berpindah-pindah tidak tetap. Tergantung dari kemurahan hati orang yang memberi tanah untuk bangun rumah. Ketika ada perselisihan dan pemilik tanah usir ya kami pindah lagi,” ujarnya dengan nada getir.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, Lukas menjual jasa tenaga membantu orang yang kerja batu merah. Sambil sesekali membersihkan kebun orang.

Sementara sang istri, Marta sibuk dengan kerjaan menjadi pemecah batu kerikil dan menjual tenaga untuk warga yang panen kacang tanah. Jasa upah dari kerja Marta per hari Rp40 ribu.

Menyinggung pendidikan anak-anaknya raut wajah pasutri ini menunjukkan kekesalan. Anak yang pertama Niko (14) hanya sampai kelas III SD, tidak mau melanjutkan sekolah. Begitu juga dengan anak kedua, Eman (12) berhenti  kelas I SD dan sekarang tidak mau sekolah lagi. Sedangkan Febrianti (4) dan Agus (2) belum sekolah.

“Padahal Niko itu mendapat bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) tetapi dia tidak mau sekolah lagi,” ungkap Marta kesal.

Pendamping PKH  Kecamatan Alok Barat, Yuliana Heni kepada Ekora NTT mengatakan keluarga ini tiap bulan mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (Sembako) dari Kementerian Sosial.

Sementara untuk bangunan rumah, tambah Heni, beberapa waktu lalu Bupati Sikka Robi Idong dan camat setempat juga dari Dinsos Sikka sudah mengunjungi gubuk Lukas Lodan.

“Mau dibangun rumah tetapi persyaratannya Pasutri harus punya lahan sendiri. Sehingga belum bisa bangun,” ujar Heni.

Saat ini kesulitan yang paling mendera keluarga Lodan dan 5 Kepala Keluarga lainnya di sekitar gubuknya adalah air bersih. Pada musim hujan bersama warga lainnya mereka masih bisa mengambil air di kali dekat perkampungan. Kalau musim kemarau terpaksa harus menempuh jarak 3 kilometer menuju Wolomarang untuk mengambil air di sana.

“Kalau ada uang ya beli ketika mobil tangki air lewat. Palingan hanya mengisinya di jerigen-jerigen untuk masak,” terang Marta.

Akibat kesulitan air bersih membuat warga irit menggunakan air. Dan juga warga tidak memiliki WC. Sementara untuk BAB warga terpaksa harus ke kali.

Kepada Ekora NTT, Lukas Lodan dan warga lainnya mengharapkan pemerintah bisa membangun bak air karena sangat vital untuk kebutuhan harian mereka.

Yuven Fernandez

TERKINI
BACA JUGA