Ende, Ekorantt.com – Anggota DPR RI Komisi XII, Dipo Nusantara Pua Upa, mendengarkan aspirasi warga Desa Sanggaraoro, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, mengenai dampak galian C milik PT Novita Karya Taga terhadap lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Dipo berjanji, apa yang dirasakan oleh masyarakat akan disampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup.
“Semua keluhan masyarakat akan kita sampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan akan kita lihat tindak lanjut dari mereka seperti apa,” ujar Dipo di hadapan warga Ndetufeo, Desa Sanggaroro, Sabtu, 7 Maret 2026.
Dipo berjanji bakal mengajak pihak Kementerian Lingkungan Hidup turun bersamanya untuk melihat langsung kondisi lapangan akibat dari aktivitas tambang galian C.
Hal itu dilakukan untuk memastikan apakah pihak perusahaan akan tetap berlanjut atau dihentikan. “Mungkin nanti setelah Lebaran mereka ke sini, karena ini masih puasa dan cuaca kita belum stabil,” pungkasnya.
Alo Gons, warga Ndetufeo mengatakan, tambang galian C yang beroperasi sejak tahun 2010 ini telah merusak lingkungan di wilayah Desa Sanggaraoro.
“Kerusakan paling nyata ketika musim hujan dan terjadinya banjir, banyak tanaman perkebunan masyarakat terbawa banjir,” ujar Alo di hadapan Dipo.
“Dulu ada warga kita yang mempunyai lahan di sekitar kali, tapi sekarang sudah tidak ada karena tergerus banjir.”
Alo mengatakan, galian itu sebenarnya sedalam 1,5 meter berdasarkan perjanjian awal. Namun, dalam perjalanan, pihak perusahaan mengeruk sedalam mencapai tujuh meter.
Kondisi di lokasi tambang semacam terowongan yang akan tertutup material pasir dan batu saat musim hujan semua material seperti pasir dan batu akan masuk ke lubang itu. Material itu, selanjutnya dikeruk dan dipakai untuk kepentingan perusahaan.
“Dan itu dilakukan berulang kali setiap tahun,” ucap Alo.
“Kami sepakat minta tutup, itu saja. Kalau tidak, ke depan kampung kami ini tinggal nama. Bisa hilang karena jarak dengan kali semakin dekat,” tandasnya.
Sementara Bernadeta Rua mengaku tidak nyaman saat memasuki musim hujan di kampungnya.
“Kami minta tutup saja. Ketika hujan kami tidak nyaman, kami tidak bisa tidur,” pungkasnya.












