Pemerintah Kembali Salurkan Bantuan Beras kepada Penyintas Erupsi Lewotobi

"Masyarakat sangat membutuhkan dan bersyukur sekali dengan beras. Mereka berharap agar beras tetap diberikan, supaya penghasilan mereka bisa konsentrasi ke pendidikan," tuturnya.

Larantuka, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur kembali menyalurkan bantuan beras kepada penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Bantuan beras kepada ribuan jiwa itu mulai disalurkan pada Kamis, 7 Mei 2026.

Krensensius Budi Ladjar, penyintas asal Desa Hokeng Jaya di Huntara Desa Konga, Kecamatan Titehena, Senin, 11 Mei 2026, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas bantuan melalui Dinas Sosial (Dinsos) Flores Timur.

Krensensius yang bekerja serabutan itu mendapat jatah 30 kilogram untuk enam anggota keluarga di pengungsian Huntara. Bantuan tersebut bisa bertahan sekitar dua pekan ke depan.

“Kami sangat butuh bantuan beras, kehidupan ekonomi kami belum pulih, terima kasih banyak atas kepedulian terhadap kami,” tuturnya.

Kepala Desa Hokeng Jaya, Gabriel Bala Namang, mengatakan bantuan disalurkan secara merata kepada 438 kepala keluarga atau 1.564 jiwa, dengan mengacu pada data penduduk terakhir.

Selain menyentuh pengungsi mandiri dan terpusat, Pemdes Hokeng Jaya membantu para siswa dan mahasiswa yang keberadaannya mudah dijangkau.

“Per jiwa 5,20 kilogram per 13 hari. Itu sudah dihitung dengan rumusnya sehingga tanda terimanya juga sudah dengan jumlahnya,” kata dia.

Gabriel menuturkan, Bappenas dan Bulog berkomitmen untuk memberikan bantuan terutama beras. Informasi ini ia terima saat menghadiri rapat bersama para pihak di Larantuka.

Menurutnya, warga baru dua kali mendapatkan bantuan selama 2026. Bantuan beras terakhir diterima pada Februari. Meski demikian, pihaknya tetap bersyukur dan berharap bantuan beras oleh pemerintah terus disalurkan sesuai jadwal.

“Masyarakat sangat membutuhkan dan bersyukur sekali dengan beras. Mereka berharap agar beras tetap diberikan, supaya penghasilan mereka bisa konsentrasi ke pendidikan,” tuturnya.

Para penyintas sebelumnya kewalahan lantaran ketiadaan beras. Kehidupan ekonomi di pengungsian belum pulih. Mereka terpaksa pulang ke kampung untuk berkebun di zona yang berisiko. Ongkos pergi dan pulang ke pengungsian sekitar Rp30 ribu per hari. Demi menekan biaya, penyintas nekat bermalam di sana.

Di pengungsian, warga membuka kios, berjualan kue, ikan, hingga berkebun pada lahan warga setempat. Namun daya beli masih lesu. Mereka juga menanam sayur di areal pengungsian yang sempit untuk kebutuhan lauk sehari-hari.

Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA