Pemerintah Alokasi Anggaran Rp41,5 Miliar Hotmix Jalan ke Huntap Lewotobi

Awalnya, pemerintah mengalokasikan dari sumber dana APBN Rp38,5 miliar dengan volume 8,35 kilometer. Belakangan volumenya ditambah sepanjang 1,9 kilometer dengan tambahan dana Rp3 miliar dari Kementerian PU.

Larantuka, Ekorantt.com – Proyek pengaspalan jalan ke Hunian Tetap (Huntap) penyintas Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mulai dikerjakan.

PPK 4.5 Balai Pelaksana Jalan Nasional Provinsi NTT, Viktor Nalle, mengatakan pengaspalan sudah mencapai 600 meter dari Desa Hokeng Jaya menuju Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang.

Viktor berkata, aspal baru mencakup setengah badan jalan persis di atas eksisting lama selebar 3 meter dengan radius kurang lebih 1,5 kilometer dari simpang Hokeng-Pululera. Pihaknya segera menyambung eksisting lama sehingga lebar jalan mencapai lima meter.

“Sesuai dengan jadwal, kami sudah mulai aspal pada 11 Mei. Untuk dua hari ini sudah 600 meter namun masih di setengah badan jalan,” katanya saat ditemui di lokasi pada Rabu, 13 Mei 2026 siang.

Awalnya, pemerintah mengalokasikan dari sumber dana APBN Rp38,5 miliar dengan volume 8,35 kilometer. Belakangan volumenya ditambah sepanjang 1,9 kilometer dengan tambahan dana Rp3 miliar dari Kementerian PU.

Rekanan dari CV Dewi Graha Indah memiliki waktu hingga September 2026 untuk menyelesaikan pekerjaan sejauh 10,25 kilometer itu. Tersisa empat bulan, Viktor optimis proyek diselesaikan tepat waktu dengan kualitas yang bagus.

Ketersediaan sumber daya diklaim memungkinkan, kata Viktor. Aspal dibeli dari PT Nusa Tenggara Jaya Maumere, Kabupaten Sikka. Sedangkan material lokal diambil tidak jauh dari lokasi proyek. Jaraknya sekitar 2 kilometer diangkut puluhan dump truck.

Meski demikian, Viktor juga was-was dengan kondisi non teknis, termasuk peningkatan aktivitas Lewotobi Laki-laki yang naik dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga).

“Rencana PHO pada 12 September. Kita tetap optimis. Peralatan siap, tenaga kerja siap, dan materialnya juga siap,” tuturnya.

Viktor bilang, pekerjaan didukung sejumlah alat berat, antara lain, satu unit Finisher untuk meratakan campuran aspal, satu unit Tandem Roller, satu unit Asphalt Sprayer hingga armada penyiraman.

Kementerian PUPR, jelas Viktor, menambah anggaran Rp3 miliar lebih meski di tengah kebijakan efisiensi. Dana itu menambah volume 1,9 kilometer untuk sampai ke Kuhe, salah satu lokasi yang nantinya dibangun perumahan layak huni bagi korban bencana erupsi.

Menurutnya, Balai Pelaksana Jalan Nasional Provinsi NTT berhasil memperoleh dana lewat presentasi meyakinkan. Dengan akses yang terkoneksi, segala logistik akan lebih mudah dimobilisasi untuk percepatan pembangunan hunian tetap.

“Apalagi material lokal di sini kualitasnya bagus sehingga baru di urpil tapi sudah bisa dilewati kendaraan. Ini tentu akan memudahkan mobilisasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, progres pekerjaan minor juga terus berjalan dengan tenaga kerja para penyintas, meliputi 20 deker besar dan kecil, saluran, dan tembok penahan jalan.

“Pekerjaan minor memang banyak, tetapi tenaga kerja kita juga banyak. Saluran kita sudah selesai, tinggal tembok penahan. Sementara deker yang sudah selesai ada tujuh,” ujarnya.

Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA