Dinkes Kupang Gelar Pemeriksaan HPV dan Vaksinasi Gratis bagi Perempuan

Tujuannya untuk meningkatkan akses perempuan terhadap layanan deteksi dini kanker leher rahim sekaligus mendorong pencegahan melalui vaksinasi HPV.

Kupang, Ekorantt.com – Dinas Kesehatan Kota Kupang bakal menggelar pemeriksaan Human Papilloma Virus (HPV) dan pemberian vaksin HPV secara gratis bagi perempuan berusia 30 tahun ke atas pada Selasa, 10 November 2026.

Pelayanan kesehatan akan dilaksanakan secara serentak di 12 puskesmas se-Kota Kupang dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62 dengan tema “Sehat untuk Semua”. Tujuannya untuk meningkatkan akses perempuan terhadap layanan deteksi dini kanker leher rahim sekaligus mendorong pencegahan melalui vaksinasi HPV.

Dinas Kesehatan Kota Kupang menyediakan dua jenis pelayanan, yakni pemeriksaan HPV untuk perempuan usia 30 tahun ke atas serta pemberian vaksin HPV bagi peserta yang telah menjalani skrining dan memenuhi rekomendasi hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan HPV menjadi salah satu langkah penting dalam upaya pencegahan kanker leher rahim. Perempuan diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan medis.

Sementara itu, vaksin HPV diberikan kepada peserta berdasarkan rekomendasi hasil pemeriksaan. Pelaksanaan vaksinasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kesehatan perempuan terhadap risiko kanker leher rahim.

Kepala Puskesmas Oepoi, drg. Elfride Ruth mengatakan pihaknya terus berupaya memperluas akses pelayanan skrining kanker serviks melalui pemeriksaan dan kunjungan langsung ke masyarakat.

Upaya ini, kata Elfride, dilakukan untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya deteksi dini kanker leher rahim. Skrining kanker serviks merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang turut didukung oleh program Pemerintah Kota Kupang.

Menurut Elfride, pelayanan skrining dilakukan dengan mendatangi masyarakat untuk memberikan pemeriksaan, sekaligus melayani warga yang datang langsung ke puskesmas. Pelayanan ini dilaksanakan untuk menjangkau lebih banyak perempuan agar memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia.

“Untuk kanker serviks, selain menjadi program Bapak Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota, kami juga mendapat target dari pemerintah pusat untuk pelayanan IVA,” ujar Elfride kepada Ekora NTT beberapa waktu lalu.

“Kami biasanya turun ke masyarakat untuk memberikan pelayanan. Jika ada masyarakat yang datang untuk diperiksa, kami juga melayani,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan pemeriksaan kanker serviks di sekolah memiliki tantangan tersendiri karena membutuhkan ruangan tertutup untuk menjaga privasi pasien.

Oleh sebab itu, kegiatan kesehatan perempuan di sekolah lebih banyak diarahkan pada edukasi dan pemeriksaan payudara sendiri bagi siswi dan guru, dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Terkait ketersediaan vaksin untuk pencegahan kanker serviks, Elfride mengatakan layanan vaksinasi tersebut belum tersedia di Puskesmas Oepoi.

Masyarakat yang membutuhkan layanan vaksinasi akan diarahkan ke fasilitas kesehatan yang menyediakannya, yakni Puskesmas Sikumana atau RSUD S.K. Lerik.

Sementara itu, apabila hasil skrining menunjukkan adanya indikasi kelainan, petugas puskesmas akan memberikan edukasi dan menyarankan pasien berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Kalau ditemukan hasil yang positif atau ada indikasi kelainan, biasanya kami edukasi pasien untuk berkonsultasi ke dokter kandungan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan diagnosisnya,” ujarnya.

Selain pelayanan pemeriksaan, Puskesmas Oepoi juga mengintensifkan promosi kesehatan mengenai berbagai persoalan kesehatan perempuan, termasuk kanker serviks.

Edukasi dilakukan melalui kunjungan ke masyarakat dan kegiatan penyuluhan, sedangkan di sekolah materi yang diberikan umumnya berupa pengetahuan dasar mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit.

Elfride berharap semakin banyak perempuan yang memanfaatkan layanan skrining dan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan atau membutuhkan konsultasi kesehatan.

“Semoga melalui perluasan akses pemeriksaan, edukasi kesehatan, dan tindak lanjut medis yang tepat, risiko keterlambatan penanganan kanker serviks dapat ditekan,” harapnya. (Adv)

TERKINI
BACA JUGA