Larantuka, Ekorantt.com – Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, merespon aspirasi warga Desa Nawokote yang menolak tiga lokasi yang disiapkan pemerintah yakni Kuhe, Todo, dan Kureng untuk direlokasi penyintas Lewotobi.
“Kita belum proses lebih jauh, tetapi nanti akan tetap kita proses untuk Nawokote punya itu,” kata Anton di ruang kerjanya, Rabu petang, 4 Maret 2026.
Warga Nawokote sebelumnya mengusulkan sejumlah opsi lokasi di wilayah selatan untuk dibangun hunian tetap (Huntap). Menurut warga, kawasan Tanah Bunga, Buewolo, Lamalori, Kojarobet, dan Buewolo, Ola Taneng, dan Garong Taneng diklaim aman dan letaknya tak jauh dengan kampung asal.
Anton berkata, usulan warga Nawokote tersebut sudah ada sejak ia dan Ignasius Boli Uran belum menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Pemerintahan sebelumnya juga pernah turun melakukan peninjauan. Terakhir dilakukan oleh Ignas Boli Uran saat keduanya mendapat kepercayaan memimpin.
Anton menyambut baik usulan tersebut. Ia mengaku sejak awal pemerintah juga mengutamakan pertimbangkan soal lokasi relokasi tak jauh dari kampung asal dan kebun para penyintas.
Ia menyebut kriteria paling dasar dalam urusan relokasi sesuai usulan tersebut. Di antaranya letak lahan berada di luar kawasan risiko bencana (KRB) dan tidak masuk dalam kawasan hutan lindung.
“Persepsinya masih belum berbeda, tetapi itu sangat tergantung dari verifikasi lapangan kita. Kalau memang memungkinkan dan itu berada di luar kawasan rawan bencana pasti kita bisa bangun di situ,” tutur Anton.
Menurutnya, pemerintah masih kekurangan lahan untuk relokasi penyintas. Usulan warga Desa Nawokote bisa dijadikan opsi namun butuh proses. Pihaknya juga harus memastikan lahan dari Hewa-Ojan Detun-Pruda untuk memudahkan mobilisasi.
Dikabarkan bahwa penolakan relokasi warga Nawokote dibuatkan dalam surat pernyataan dan dilengkapi daftar hadir 600 warga dewasa termasuk tokoh masyarakat setempat. Surat itu diantar ke bupati, wakil bupati, ketua DPRD, dan camat pada 5 Februari 2026.
Tokoh Adat Nawokote, Tobias Lewotobi Puka, mengatakan lokasi yang diusulkan itu pernah disurvei pemerintah saat awal wacana relokasi.
Mereka kembali mengusulkan lahan itu lantaran tiga lahan yang disiapkan Pemkab Flores Timur untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap) terlampau jauh dengan kampung asal. Sementara mayoritas warga sebagai petani dan sumber hidup mereka berada di Nawokote.
Tobias mengatakan, selama ini warga harus menempuh perjalanan sekitar 19 kilometer dari Hunian Sementara (Huntara) dengan ongkos transportasi paling sedikit Rp20 ribu per hari ke Nawokote.
Ia kembali menegaskan, tiga lokasi relokasi untuk pembangunan Huntap yang disiapkan jaraknya lebih jauh dari Nawokote jika dibandingkan dengan Huntara.
Selain itu, Tobias melanjutkan, warga Nawokote punya ritus sakral yang melekat erat dengan Gunung Lewotobi Laki-laki. Tak hanya itu, warga juga gelisah dengan kejelasan relokasi penyintas yang terkatung-katung sejak dua tahun terakhir.
Tobias khawatir akan potensi konflik masyarakat di kemudian hari. “Kami sejatinya sangat mendukung niat baik pemerintah, tetapi kami mohon segala masukan dan niat baik dari kami ini juga dipertimbangkan,” kata dia menandaskan.
Paul Kabelen












