Belasan Siswa Sekolah Dasar di Ende Diduga Keracunan Makanan Bergizi Gratis

Tiga jam kemudian, para siswa mengalami mual dan muntah. Pihak sekolah mengira hal biasa dan bukan disebabkan dari MBG. Sekitar pukul 14.20 Wita, Vinsensius mendapat kabar tiga anak masuk di RSUD Ende.

Ende, Ekorantt.com – Kepala SDK Ende 3 di Kabupaten Ende, Provinsi NTT, Vinsensius Banggo, menyebutkan sebanyak 14 siswa dari sekolah itu mengalami keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis (MBG) pada Senin, 11 Mei 2026.

Belasan siswa yang terdiri dari sembilan siswa kelas 1 dan lima siswa kelas 3 ini dirawat di tiga fasilitas kesehatan yakni RSUD Ende, Klinik Martin Depores, dan Klinik Muhammadiyah.

“Yang dirawat di rumah sakit dan Klinik Martin Depores sudah keluar (Senin) malam, sementara untuk Klinik Muhammadiyah keluar siang ini,” ujar Vinsensius di Ende, Selasa.

Ia menjelaskan pada Senin pagi sekitar pukul 09.00 para siswa diberi makanan berupa nasi putih, semur telur, tempe goreng ketumbar, dan buah semangka dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Potulando, Ende Tengah.

Tiga jam kemudian, para siswa mengalami mual dan muntah. Pihak sekolah mengira hal biasa dan bukan disebabkan dari MBG. Sekitar pukul 14.20 Wita, Vinsensius mendapat kabar tiga anak masuk di RSUD Ende.

“Saya langsung WA for voice note bagi anak yang mengalami muntah atau kepusingan, mual, langsung ke UGD atau klinik terdekat supaya bisa ditangani lebih cepat,” ujarnya.

Vinsensius bergegas menuju ke Klinik Muhammadiyah dan Klinik Martin Depores untuk menjenguk siswa yang sedang dalam perawatan. Ia lantas berkoordinasi dengan pihak SPPG terkait peristiwa itu.

Vinsensius pun memutuskan untuk menghentikan sementara pembagian MBG selama sepekan di sekolahnya.

“Saya hentikan sementara karena memang punya tata tertibnya. Kalau ada temuan (keracunan) itu biasa kita satu minggu ya, satu minggu,” ujar dia.

Setelah satu minggu berjalan, pihak sekolah akan kembali berkoordinasi dengan pemerintah dan stakeholder serta orang tua siswa untuk keberlanjutan program tersebut.

“Ya, karena ini merupakan program nasional,” kata Vinsensius.

Ia memastikan semua siswa yang mengalami keracunan telah kembali ke rumah masing-masing sambil menunggu hasil penelitian laboratorium.

Meskipun hasil uji laboratorium belum keluar, Vinsensius menerangkan pihak SPPG Potulando telah bersedia bertanggung jawab penuh kepada 14 siswa yang mengalami keracunan.

Pihak SPPG siap membiayai semua biaya perawatan siswa yang mengalami keracunan.

“Mereka yang membiayai semua. Jadi, biaya rumah sakitnya mereka langsung bayar,” pungkasnya.

SPPG Minta Maaf

Kepala SPPG Potulando, Melki Guka, menyampaikan permohonan maaf kepada para orang tua, peserta didik serta pihak sekolah di SDK Ende 3.

“Ini menjadi bahan evaluasi untuk kami bisa optimalkan lagi proses produksi dan distribusi, terkhusus supplier bahan baku akan disterilkan lagi,” kata Melki.

Melki menjelaskan sebelum menu disalurkan ke sekolah, biasanya Person in Charge (PIC) MBG terlebih dahulu mengecek standar kelaikan konsumsi. Menu makan biasanya harus benar-benar aman, kata Melki.

“Hasil dari pengecekan awal oleh PIC pada kelompok kelas satu sampai enam itu menyatakan aman. Mereka cicip dulu dan menyatakan aman yang buktikan dengan berita acara,” ungkap dia.

Oleh karena itu, pihaknya tetap mematuhi dan menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan pada anak.

“Anak-anak ini ketika melihat ompreng masih trauma dengan kejadian kemarin. Makanya sebagai sikap saya selalu selaku Kepala SPPG saya menghentikan sementara pendistribusian MBG,” ujarnya.

TERKINI
BACA JUGA