Mama Edis sendiri merupakan seorang pasien penyandang disabilitas psikososial. Kisahnya bermula saat ia bekerja di Makassar, Sulawesi Selatan belasan tahun lalu.
Mereka selalu berdiam diri di “menara gading” institusi akademik, fokus pada penelitian demi pengembangan pengetahuan, dan berkutat pada teori-teori yang dipelajari.
Di tengah derasnya arus digital, batas antara transparansi dan sensasi kian menipis-dan ironisnya, yang kerap menjadi korban adalah mereka yang paling lemah posisinya: para pelaku UMKM.
Bukan hanya terhadap para pegawai yang terdampak, tetapi juga terhadap keberlanjutan pelayanan publik yang selama ini bergantung pada kontribusi mereka.
Kondisi tekanan ekonomi keluarga ini dipandang sebagai alasan yang mendorong YBR melakukan tindakan banal ini.
Narasi lain memandang tragedi YBR ini sangat kompleks.
Ia pun memperkenalkan bahwa Alor dikenal secara internasional sebagai salah satu destinasi selam terbaik di dunia, dengan kekayaan bawah laut yang luar biasa.